Jumat, 20 Februari 2015

Tugas Resume Pendidikan Agama Islam



BAB I
MAKNA DAN HAKIKAT ISLAM
A. Makna Islam (مَعْنَى الإِسْلاَمِ )
1. Islam berasal dari bahasa Arab yang memiliki banyak arti :
a.   Islam berasal dari kata "islaamul wajhi " (أَسْلَمَ وَجْهَهُ ) yang artinya menundukan wajahnya. Seorang muslim berarti menundukan wajahnya di hadapan Allah SWT,karena rasa hormatnya kepada Allah SWT.
b.   Islam berasal dari "istislaam" (الإِسْتِسْلاَمُ) yang berarti berserah diri. Seorang muslim berarti orang yang berserah diri kepada Allah SWT,apapun yang akan diperbuat oleh Allahkepada dirinya ia akan pasrah,menyerah,ridho.
c.   Islam juga berasal dari kata "as-salaamah" (اَلسَّلاَمَةُ) yang artinya suci dan bersih. Seorang muslim adalah orang yang besih badan ,pakaian,pikiran dan hatinya. Kebersihan ini merupakan keiklasan islam,sehingga Bab Thaharah (Bersuci) menjadi yang pertama dalam Fiqh.
d.   Islam berasal dari kata "as-salaam" (اَلسَّلاَمُ) yang artinya selamat sejahtera. Seorang muslim selalu memberikan keselamatan dan  kesejahteraan bagi orang lain. Ucapan salam adalah  khas bagi muslim. Rasulullah SAW mendorong umatnya agar menebarkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal.
e.   Islam juga berasal dari kata "as-silmu atau as-salmu" (اَلسِّلْمُ) yang artinya perdamaian. Islam adlah agama yang damai,bukan agama kekerasan. Orang muslim adalah orang yang menebarkan kedamaian di  muka bumi.
        Jadi Islam berarti :
1.  Menundukan wajah kehadirat Allah SWT
2.  Berserah diri kepada Allah SWT
3.  Kesucian dan kebersihan
4.  Keselamatan dan kesejahteraan
5.  Perdamaian
6.  Dan inilah yang  diridhoi oleh Allah SWT,siapa yang mencari agama lain akan ditolak diakhirat dan rugi.
B. Hakikat Islam
Sebagai agama. islam memiliki sebutan-sebutan yang menjelaskan hakikat dari islam, sebutan-sebutan itu sebagian terkait dengan maknanya secara bahasa dan ada juga yang terpisah.
A.  اَلْخُضُوْعُ
Islam adalah agama yang menekankan pada ketundukan manusia pada Sang Pencipta. Seorang Muslim adalah orang yang tunduk pada perintah dan larangan Allah agar menjadi orang yang bertakwa. Shalat merupakan contoh ketundukan seorang Muslim, terutama pada saat ruku’ dan sujud.
B.  وَحْيٌ إِلَهِيٌّ
Islam adalah satu-satunya agama yang berasal dari Wahyu Allah. Tak mungkin Allah menetapkan lebih dari satu agama yang perbedaannya jauh sekali dan bertentangan ajaran-ajarannya

C.   دِيْنُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ
Islam adalah agama para nabi dan rasul. Semua nabi dan rasul membawa agama yang sama dan satu, yaitu Islam
D.   أَحْكَامُ اللهِ
Islam adalah minhajul hayah (pedoman hidup) yang berisi hukum-hukum Allah. Kehebatan hukum-hukum Allah salah satunyaberasal dari Pencipta alam semesta, berarti yang paling tahu seluk-beluk alam semesta. Karena itu, Allah menekankan sekali agar berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan
E.   اَلصِّرَاطُ اَلْمُسْتَقِيْمُ
Islam adalah jalan yang lurus (shiratul mustaqim) à jalan yang selamat sampai sorga. Rasulullah SAW pernah membuat sebuah garis lurus, kemudian di sisi-sisinya ada garis-garis lain yang menyimpang ,di setiap persimpangan ada para penyeru ke neraka Jahannam
F.   سَلاَمَةُ الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ
Islam adalah agama yang menjamin pemeluknya akan selamat dan sejahtera di dunia dan di akhirat. Orang yang beragama selain Islam akan tertolak amalnya (3:85), atau dijadikan debu (25:23), hidupnya sempit (20:124) meski bergelimang harta. Setiap Muslim yang mengucapkan syahadat dan tidak syirik pasti masuk sorga meskipun dia mencuri dan berzina, meskipun dosa-dosanya itu mesti dibersihkan dulu di neraka (na’udzu billah min dzalik). Abu Dzar saja heran terhadap sabda Nabi ini hingga menegaskannya 3x dan mendapat jawaban yang sama; pada jawaban terakhir Rasul bersabda, “Walaupun hidung Abu Dzar keropos.”


Kesimpulan
Berdasarkan materi diatas dapat disimpulkan bahwa :
Islam merupakan agama yang sangat ideal dan sempurna. Banyak faktor yang mencoba menutupi kesempurnaan Islam, namun kesempurnaan Islam tidak dapat tertutupi. Hal inilah yang menjadikan muslim di dunia selalu meningkat.


BAB II
UNIVERSITAS ISLAM
A.  Agama Universal
Islam adalah agama yang universal/integral/menyeluruh atau agama yang SYAMIL. Kemenyeluruhan atau universalitas Islam (syumuliyyatul Islam) meliputi segala aspek.
Paling tidak, ada 3 aspek syumuliyyatul Islam :
1. Universal dari segi MASA (شُمُوْلِيَّةُ الزَّمَانِ)
2. Universal dari segi SISTEM (شُمُوْلِيَّةُ الْمِنْهَاجِ)
3. Universal dari segi TEMPAT (شُمُوْلِيَّةُ الْمَكَانِ)

1. Dari Masa ke Masa (شُمُوْلِيَّةُ الزَّمَانِ)
Islam adalah agama manusia pertama (Nabi Adam AS) dan para nabi dan rasul setelahnya, sampai berakhir pada Nabi Muhammad SAW.
Jadi Islam adalah agama dari masa ke masa, tidak pernah terputus.
Islam Agama Satu-satunya.
Allah SWT menegaskan bahwa sebutan MUSLIMIN (orang-orang Islam) bukan sebutan baru bagi umat Nabi Muhammad SAW, tapi seluruh pengikut para Nabi dan Rasul disebut Muslimin.

Kesatuan Risalah وَحْدَةُ الرِّسَالَة)ِ)
1.  Islam menyeluruh dari zaman ke zaman karena adanya kesatuan risalah para Rasul yang diutus Allah SWT
2.  Misi para rasul adalah sama: akidah dan ibadah
3.  Tidak ada dari rasul yang kemudian mendirikan agama baru, dengan penyembahan yang baru, misalnya menyembah dirinya. Bahkan Al-Qur’an itu sudah disebut-sebut di kitab-kitab sebelumnya.
Risalah Penutup
Kesatuan risalah (misi) itu sampai dengan risalah yang dibawa oleh penutup para Nabi, Muhammad SAW. Inilah risalah terakhir (penutup) sekaligus penghapus, penyempurna risalah-risalah sebelumnya

2. Universal dari segi SISTEM (شُمُوْلِيَّةُ الْمِنْهَاجِ)
Syumuliyyatul Islam yang kedua adalah syumuliyyatul minhaj (universalitas dari segi sistem atau tatanan). Minhaj Islam memang meliputi seluruh sendi kehidupan manusia, tidak ada yang terlupakan.
Karena itu, tidak boleh memecah-mecah ajaran Islam (sekularisme sangat ditolak dalam Islam!). 2:85 أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ à Allah marah kepada orang yang beriman kepada sebagian Al-Qur’an, dan ingkar terhadap sebagian yang lain à balasannya? kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

Prinsip Minhaj Islam :
Pondasi (اَلأَسَاسُ)
Bangunan (اَلْبِنَاءُ)
Pendukung atau atap (اَلْمُؤَيِّدَاتُ)
Bangunan Islam
-       Pondasinya adalah syahadatain
-       Tiang-tiangnya adalah empat rukun Islam lainnya: shalat, puasa, zakat, hajji àapakah bangunan yang hanya pondasi dan tiang sudah cukup? Ada yang mau tinggal di situ?
-       Dinding-dindingnya ada empat:
1.      Sistem sosial (الإجتماعي)
2.      Sistem politik (السياسي)
3.      Sistem ekonomi (الإقتصادي)
4.      Sistem budaya (الثقافي)
-       Atapnya adalah jihad fi sabilillah. Secara lebih sederhana, minhaj yang utuh yang diserupakan dengan bangunan yang utuh, terdiri dari :
1.         Pondasi: akidah
2.         Bangunannya: ibadah dan akhlak
3.         Atapnya: jihad dan dakwah

Pondasi atau Asas.
-       Asas bangunan Islam adalah asas yang paling kokoh: AQIDAH yang terangkum dalam syahadatain (rukun Islam pertama) dan enam rukun Iman
-       Sedangkan asas yang lain seperti tepian jurang yang hampir longsor
Jenis Pondasi.
IBADAH dalam arti luas: mahdhah (khusus, ritual) dan ‘ammah (semua perbuatan baik, termasuk empat dinding-dinding tadi)
AKHLAK: tata pergaulan antara manusia dengan Allah, sesamanya, lingkungan, dan juga dirinya sendiri

3. Universal dari Segi Tempat (شُمُوْلِيَّةُ الْمَكَانِ)
-     Islam berlaku untuk segala tempat (seluruh dunia)
-     Segala tempat di bumi ini à mesti tegak Islam di atasnya

B.  10 Sistem Hidup
Secara rinci, ada 10 sistem hidup dalam Islam
Sistem keyakinan (اَلاِعْتِقَادِيُّ)
Sistem akhlak (اَلأَخْلاَقِيُّ)
Sistem perilaku (اَلسُّلُوْكِيُّ)
Sistem perasaan (اَلشُّعُوْرِيُّ)
Sistem pendidikan (اَلتَّرْبَوِيُّ)
Sistem sosial (اَلاِجْتِمَاعِيُّ)
Sistem politik (اَلسِّيَاسِيُّ)
Sistem ekonomi (اَلاِقْتِصَادِيُّ)
Sistem militer (اَلْعَسْكَرِيُّ)
Sistem hukum perundang-undangan (اَلْجِنَائِيُّ)




BAB III
MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT
A.   Rukun Islam
Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.
Rukun Islam ada 5
-       Mengucapkan dua kalimat syahadat
-       Mendirikan shalat
-       Menunaikan zakat
-       Puasa bulan Ramadhan
-       Menunaikan haji bagi yang mampu
1.     Rukun Pertama:
•       Diletakkan di urutan PERTAMA dalam rukun Islam berarti syahadatain itu sangat penting Ia menjadi titik tolak baiknya rukun selanjutnya
•       Shalat memang berat ,tapi ringan bagi yang khusyu’ (karena imannya benar)
•       Zakat juga berat, tapi bagi yang meyakini balasan dari Allah yang sangat besar, tentu akan menjadi ringan
•       Puasa juga berat, tapi bagi yang beriman dengan baik, akan jadi ringan
•       Haji juga berat, tapi bagi yang bertakwa itu menjadi ringan
•       Jadi yang menentukan adalah iman, yang ditentukan oleh baiknya syahadatnya (rukun pertama)
Prinsip – prinsip Islam
Inti ajaran Islam adalah Ikhlas kepada Allah , Mengikuti ajaran Rasul SAW Keduanya ada dalam syahadatain. Inti Al-Qur’an ada di surat Al-Fatihah à Penting, sehingga wajib dibaca setiap shalat. Belajar Mulai dari Global Mempelajari sesuatu lebih mudah dari yang global lebih dahulu, baru yang lebih rincinya Semasa di sekolah juga seperti itu

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan (47:19)
SYAHADAT ASAS PERUBAHAN
Harus mulai dari mana kalau kita ingin melakukan perubahan (masyarakat)? Pertanyaan yang jawabannya sangat sulit, Rasul SAW sendiri bingung Allah SWT-lah yang menunjukkannya.

إِنَّمَا أُنْزِلَ أَوَّلُ مَا أُنْزِلَ مِنْهُ سُوْرَةٌ مِنَ الْمُفَصِّلِ فِيْهَا ذِكْرُ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ حَتَّى إِذَا ثَابَ النَّاسُ إِلَى الإِسْلاَمِ نَزَلَ الْحَلاَلَ وَالْحَرَامَ وَلَوْ نُزِّلَ أَوَّلُ شَيْءٍ :لاَ تَشْرَبُوا الْخَمْرَ لَقَالُوْا لاَ نَدَعَهَا أَبَدًا ، وَلَوْ نُزِّلَ : لاَ تَزِنُوْا لَقَالُوْا لاَ نَدَعَ الزِّنَا
Sesungguhnya yang pertama-tama turun dari Al-Qur’an adalah surat ‘Al-Mufashshil’ yang berisi peringatan tentang sorga dan neraka.  Hingga keislaman manusia itu kokoh, turunlah tentang halal dan haram. Jika yang pertama kali turun sesuatu yang berkenaan dengan: ‘Jangan minum khamar’, pastilah mereka berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkannya selamanya’; ‘Jangan berzina’, pastilah mereka berkata, ‘Kami tidak akan meninggalkannya. (HR Imam Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman: 5/322)
SYADAHAT HAKIKAT DAKWAH PARA RASUL
Setiap rasul yang diutus oleh Allah pasti membawa kalimat syahadat Jadi ini seperti  pesan berantai yang menunjukkan bahwa pesan syahadat
Wahyu Setiap Rasul
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku".
Nabi Nuh AS (7:59)
لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).
Nabi Hud AS (7:65)
وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلا تَتَّقُونَ
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?"
Nabi Shalih AS (7:73)
وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka, Saleh. Ia berkata. "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya
Nabi Syu’aib AS (7:85)
وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya
 Syahadat memiliki keutaman          
§  Kalimat thayyibah laa ilaaha illallah adalah sebaik-baik dzikir
§  Syahadat juga telah memunculkan generasi terbaik umat (khairu ummah)
§  Generasi yang agung ini diakui langsung oleh Allah SWT (3:110)
§  Jika ingin generasi seperti itu muncul lagi, syahadat adalah kuncinya


BAB IV
KANDUNGAN SYAHADAT
A.   Makna “Asyhadu” (أشهد)
       Penggunaan lafadz “asyhadu” sebagai kata kunci dalam kalimat yang menjadi pintu gerbang Islam itu, tentu bukanlah tanpa sebab, karena ada lafaz lain yang maknanya mirip, misalnya “uqirru” (saya mengakui) maupun “U’linu” (saya memproklamirkan). Tapi toh bukan dua kata itu yang digunakan. Jika ditanya, apa sebab pemilahan lafaz “asyhadu” itu, dan bukan yang lainnya? Jawaban yang tepat dan pasti benar adalah: Allahu a’lam (Allah-lah Yang Paling Mengetahui). Namun pasti ada hikmah yang bisa kita gali dari pemilihan lafaz tersebut.
       Kata “asyhadu” sendiri sesungguhnya memiliki tiga makna, kata Ustadz Sa’id Hawwa dalam bukunya Al-Islam. Dan semua makna itu terpakai dalam Al-Qur’an. Apa makna-makna yang terkandung dalam kata “Asyhadu” itu? Al-ustadz Said Hawwa menjelaskan bahwa kata “asyhadu” dengan segala turunanya memiliki makna-makna:
       Pertama, “melihat dengan mata kepala sendiri” (mu’ayanah مُعَايَنَة ). Ini terpakai dalam firman Allah Ta’ala, “Melihatnya (yasyhaduhu) para malaikat yang didekatkan.” ( QS Al-Muthafifin: 21).
Kedua, “mengutarakan dengan kesaksian atau keterangan berkenaan dengan sesuatu atau seseorang yang dia ketahui berdasarkan hasil pengindraannya. “Asyhadu” dengan makna ini bisa kita temukan pada ayat:“Dan mintalah kesaksian (wa asyhidu) dua orang yang adil di antara kalian.” (QS Ath-Thalaq:2). Ketiga, “sumpah”. Al-Qur’an menggunakannya dalam ayat: “Apabila datang kepadamu orang-orang munafiq, kami bersumpah (nasyhadu) bahwa engkau adalah utusan Allah.” ( QS Al-Munafiqun: 1).
Ketiga arti Asyhadu – dengan segala turunan katanya – itu berjalin berkelindan: seseorang akan bersumpah ketika dia menyampaikan kesaksian. Dan tidaklah ia akan memberikan kesaksian kecuali atas dasar apa yang diketahui secara pasti.
       Atas dasar uraian lafadz “asyhadu” dari sisi bahasa (lughah) itu, Ustadz Sa’id Hawwa mengatakan, bisa ditarik kesimpulan bahwa orang yang mengikrarkan dua kalimat syahadat seharusnya:
       Pertama, “melihat” bahwa tiada tuhan selain Allah, dengan akal dan hatinya. Dan dalam rangka membimbing ke arah itu, Allah menegaskan: “Seandainya di langit dan di bumi itu ada tuhan-tuhan selain Allah, niscaya keduanya (langit dan bumi itu) akan hancur.” ( QS Al-Anbiya: 22).

Kedua, memberi kesaksian atas apa yang ia “lihat” itu dengan lisannya. Oleh karena itu mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan rukun Islam yang pertama. Tidaklah diterima keislaman seseorang kecuali dengan mengikrarkannya.
       Dan yang ketiga, kesaksian itu haruslah didasari keyakinan tanpa keraguan. Rasulullah saw bersabda: “Tak seorang pun yang bersyahadat tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah secara tulus dari hatinya, melainkan pasti Allah haramkan baginya neraka.” (Riwayat Al-Bukhari dari Al-Qatadah).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengomentari hadits ini dengan mengatakan “Hadits itu berlaku untuk orang yang mengucapkannya lalu mati dalam keadaan memegang teguh kalimat tersebut. Dan kalimat syahadat itu juga bersyarat, yakni diucapkan secara ikhlas dari hati, tanpa keraguan, tulus, dan penuh keyakinan”.

       Namun, lanjut beliau, kebanyakan orang mengucapkannya tanpa keikhlasan. Dan kebanyakan mereka mengucapkannya karena taqlid (ikut-ikutan) atau karena tradisi, semetara manisnya iman belum menghiasi hatinya. Dan justru orang mendapatkan siksa ketika mati atau di alam kubur adalah orang-orang seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ”Saya mendengar orang-orang mengucapkan sesuatu maka sayapun mengucapkannya”. (Fathul Majid, hal. 38).

       Said Hawwa pun kemudian menjelaskan pula bahwa orang yang karena kecongkakannya dan pembangkangannya misalnya, lantas tidak bersyahadat dengan lisannya bahwa tiada tuhan selain Allah, maka sesungguhnya dia adalah kafir. Dan barang siapa yang hati dan akalnya tidak menjadi saksi atau ragu bahwa “tiada tuhan selain Allah” maka dia adalah munafiq walaupun ia mengucapkan kaliamat syahadat (Al-Islam, hal. 26).

B.    Makna “Ilaah” (إلا الله)

             Kalimat lain yang perlu dijelaskan adalah : “ilaah”. Dalam penggunaan bahasa Arab, kata “ilaah” (dengan segala bentuknya dari aliha–ya’lahu) memiliki beberapa makna. Di antara makna-makna yang sering diucapkan dengan kata-kata itu adalah: berlindung, merasa tenang, sangat mencintai, dan mengabdi.
          Dan seperti halnya lafadz “asyhadu” arti yang terkandung dalam lafadz “ilaah” juga mempunyai kaitan arti satu sama lain. Kaitannya, mengutip penjelasan ustadz Sa’id Hawwa adalah: Seseorang hanya akan berlindung kepada sesuatu atau seseorang yang membuat dia merasa tenang. Lantas, jika sesuatu atau seseorang itu telah mampu membuat dia merasa tenang maka dia akan mencintainya. Dan jika seseorang sangat mencintai sesuatu atau seseorang maka apapun yang dikehendakinya olehnya akan dipatuhinya.
          Karenanya, manakala seseorang mengucapkan “la ilaaha illallahu” dia sesungguhnya tengah mengikrarkan kalimat “Tidak ada yang menjadi tempat berlindung selain Allah; tidak ada yang membuat saya tenang dan tenteram selain Allah; tiada yang lebih saya cintai selain Allah. Dan oleh karena itu saya tidak mengabdi kepada selain Allah.”

             Dan memang Al-Qur’an telah mengarahkan manusia Muslim untuk mempunyai sifat dan sikap seperti itu, di antaranya:
• Seorang muslim tidak boleh berlindung kepada selain Allah. Berlindung kepada selain Allah sama sekali tidak mendatangkan manfaat. Allah menginformasikan tentang pernyataan jin. ”Dan sungguh ada kaum laki-laki dari manusia yang minta berlindung kepada kaum laki-laki dari jin, maka mereka (manusia) itu hanya menambah mereka (jin-jin) semakin congkak.” (QS Al-Jin: 6). Ayat itu menegaskan tentang kesia-siaan orang yang minta perlindungan kepada selain Allah.
• Seorang mukmin mendapat ketentraman dengan mengingat Allah. Firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka merasa tenang tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengigat Allah-lah hati akan menjadi tenteram.” ( QS Ar-Ra’ad: 28).
• Orang beriman akan menjadikan Allah sebagai Yang paling dia cintai melebihi yang lain: “Dan di antara orang-orang yang menyembah sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai sebagaimana mereka mencintai Allah. Sedangkan orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” ( QS Al-Baqarah: 165).
• Orang yang beriman mempersembahkan kehidupan dan pengabdiannya kepada Allah. Ini sesuai dengan ikrar harian: ”Hanya kepada Engkaulah kami mengabdi dan hanya kepada engkaulah kami memohon pertolongan.” ( QS Al-Fatihah: 5).




BAB V
PENGERTIAN KATA ILLAH

A.   Kata ILAH Terdiri atas tiga huruf : alif, laam, dan haa.
Kalau merujuk ke kamus besar bahasa Arab, maka ALIHA itu memiliki beberapa arti, yaitu :
•         Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
•         Memohon perlindungan (اِسْتَجَا رَ بِهِ)
•         Yang dituju karena rindunya (إِشْتَا قَ إِلَيْهِ)
•         Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)
•         Mengabdi (عَبَدَهُ)

Tenang/tentram (سَكَنَ إِلَيْهِ)
Seorang muslim harus yakin bahwa tidak ada yang dapat menenangka dan menentramkan kecuali menjalin hubungan dengan Allah.
أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.
Memohon perlindungan (اِسْتَجَا رَ بِهِ)
Minta perlindungan kepada jin, adalah dosa besar. Meskipun semua makhluk melindungi seseorang, tapi Allah hendak menimpakan bencana, maka akan tetimpa bencana. Begitu pula sebaliknya (Hadits).
Yang dituju karena rindunya (إِشْتَا قَ إِلَيْهِ)
Larilah kamu menuju Allah(51:50-51) :
•         Kalau lari, tabiatnya muka ke depan dan tidak berpaling kekiri dan kekanan
•         Jangan terbuai dengan dunia dan orang lain.
Paling dicintai/dirindukan (وُلِعَ بِهِ)

          Kita boleh cinta kepada anak, harta dan yang lainnya, tapi yang paling dicintai haruslah Allah. Karena kecintaan seorang mu’min kepada Allah harus sangat cinta, bukan sama cintanya dengan kepada selain-Nya.
Kenapa cinta tertinggi harus kepada Allah ?
•         Karena tabiat cinta itu menuntut pengorbanan.
•         Menuruti tuntutan anak, istri dan lainnya tidak boleh bertentangan dengan Allah.
Mengabdi (عَبَدَهُ)
Ini arti ILAH yang merangkum semua arti ILAH di atas. Karena mengabdi berarti :
•         Merasa tenang
•         Minta perlindungan
•         Menuju karena rindunya
•         Mencintainya

Berarti لاإله إلاالله maknanya “Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah”.
Tuntutan Pengabdian
Pengabdian itu tercapai kalau dilakukan dengan :
•         Sempurna dalam mencinta (كَمَالُ الْمَحَبَّةِ)
Merasa asyik bersamanya
Berlama-lama bersamanya
•         Sempurna dalam menghinakan diri (كَمَالُ التَّذَلُّل)
•         Sempurna dalam ketundukan (كَمَالُ الْخُضُوْع)

ILAH (Ibnu Taimiyah)

هُوَ الَّذِي يَأْلَهَهُ الْقَلْبُ بِكُلِّ الْحُبِّ وَالتَّعْظِيْمُ وَالرَّجَااءِ وَالخَوْفِ وَنَحْوُ ذَلِكَ
          Segala yang digandrungi hati dengan segenap kecintaan, pengagungan, penghormatan, pemuliaan, harap, cemas dan sederajat dengan itu.
Pengabdian kepada Allah
Pengabdian hanya kepada Allah saja karena :
Allah pemilik otoritas
hak menciptakan, memeintah dan memimpin hanyalah hak Allah.

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِين
          Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al Kitab (Ai Qur’an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh. (7:196)

Allah pemilik ketaatan
          Ketaatan yang utama adalah kepada Allah. Ketaatan kepada RAsul Allah karena Rasul Allah tidak pernah ma’siyat kepada Allah, sehingga nilai ketaatannya sama. Taat pada ulil amri punya syarat, ulil amri itu harus taat kepada Allah.

لاَطَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا اطَّاعَةُ فِي الْمِعْرُوْفِ
Tiada ketaatan dalam ma’siyat, ketaatan itu hanya pada masalah ma’ruf (Muttafaq alaih)
Allah pemilik kedaulatan
Kedaulatan ada di tangan Allah.

إِنَّ الْحُكْمُ إِلالله
Menetapkan kehendak itu hanyalah hak Allah
Ilah Satu-satunya Allah SWT

•      Yang kita berikan cinta yang sempurna, penghinaan diri yang sempurna, ketundukan yang  sempurna hanyalah Allah
•      Yang memiliki otoritas, ketaatan, dan kedaulatan hanyalah Allah saja
        Loyalitas dan Pemutusan Hubungan
Akarnya Kokoh (أَصْلُهَا ثَابِتٌ)
• Ini syarat sebuah pohon bisa hidup dengan baik
• Akar adalah tempat menyerap makanan
• Akar juga untuk mengikat pohon dengan tanah sehingga tidak roboh
• Akar yang kokoh mampu menahan angin yang kencang
• Iman yang kuat: akar imannya menghunjam ke dalam hati
   kan kokoh dan teguh dalam menghadapi tantangan dan ujian
Cabangnya (Menjulang) Ke Langit (فَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ)
• Karena akarnya kokoh, maka mampu menopang cabang-cabang yang menjulang tinggi ke langit
• Ketinggian atau lebarnya cabang-cabang menunjukkan akarnya juga seperti itu
• Ini adalah pohon yang rindang menyejukkan bagi siapa saja yang bernaung di bawahnya
• Daunnya juga lebat: daun adalah dapurnya pohon
• Iman yang seperti itu menyenangkan siapa saja yang bernaung di bawahnya dan memancarkan sinarnya yang menyejukkan
Kalimat yang Buruk (14:26)
• Selain لاإله إلاالله adalah kalimat yang buruk (كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ )
• Mereka seperti pohon yang buruk (كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ)
• Cirinya tidak perlu banyak, cukup satu saja: akarnya tercerabut dari bumi (اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ)
Tidak akan kokoh (مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ)
Tidak akan menjulang ke langit dahannya
Tidak akan berbuah
• Contoh: tauge
Rincian Kalimat لاإله إلاالله

• Kalimat لاإله إلاالله terdiri atas empat kata
1. لا
2. إله
3. إلا
4. الله

• Masing-masing memiliki fungsi
1. لا fungsinya adalah meniadakan (اَلنَّفْيُ)
• Atau makna yang sejenis: menghancurkan, meruntuhkan, membabat, menghilangkan
2. إله fungsinya sebagai yang ditiadakan (اَلْمَنْفِيُّ)
• Pembahasannya sudah diuraikan di A03 Ma’nal Ilah
3. Keduanya mengandung maksud bahwa kita harus berlepas diri dari semua ilah atau disebut dengan اَلْبَرَاءُ

• Ada empat makna yang dimaksud oleh kata al-bara’
1. Mengingkari atau menolak (اَلْكُفْرُ)
2. Memusuhi (اَلْعَدَاوَةُ)
3. Membenci (اَلْبُغْضُ)
4. Memutuskan atau mengisolir (اَلْمُفَاصَلَةُ)

• Jadi memutuskan hubungan dengan semua ilah disertai pengingkaran, permusuhan dan kebencian
 masih mungkin balik lagià• Putus hubungan tanpa menolak, memusuhi dan membencinya
Syahadatain untuk Perubahan (التَّغْيِيْرُ)
• Syahadatain yang benar mampu merubah seseorang: berubah menjadi pribadi baru
• Berubah dari pribadi biasa menjadi PRIBADI YANG ISLAMI (الشَّخْصِيَّةُ الإِسْلاَمِيَّةُ)
– Pribadi yang diwarnai dengan warna syahadatain
– Pribadi yang punya sikap hidup tauhid
• Perubahan dimulai dari syahadatain, bukan dengan yang lain

Tentara Fikrah dan Akidah
• Imam Syahid Hasan al-Banna mengartikan ikhlas dengan menjadi tentara fikrah dan akidah (جُنْدِيفِكْرَة وَعَقِيْدَة )
• Setiap kata-kata, aktivitas, dan jihadnya, semua harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan

• Ada sebanyak 19 ayat yang menyebutkan kata “kalimat” (كَلِمَةُ)
• Arti “kalimat”
• Pernyataan
• Ketetapan
• Konsepsi (Manhaj)

Islam vs Non-Islam
• Islam memiliki ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi yang berbeda dengan Non-Islam
• Merujuk pada materi “Al-Wala wal-Bara”, maka Islam telah membersihkan dirinya sebersih-bersihnya dari segala kotoran Non-Islam.

Syahadatain vs Ideologi Jahiliyah
• Ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi Islam yang bersih itu bersumber dari syahadatain
• Sedangkan Non-Islam berasal dari pemikiran-pemikiran atau ideologi jahiliyah
– Ideologi yang tumbuh dari tumpukan dosa-dosa
– Padahal dosa itu menimbulkan bintik hitam (نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ) dalam hati (83:14)
– Apabila tidak dibersihkan dengan taubat, maka akan menutupi hati (2:7)
– Akhirnya dosa itu ditetapkan sebagai hukum

Kalimat Allah vs Kalimat Orang Kafir
• Syahadatain itu adalah Kalimat Allah (9:40), berasal dari Allah SWT
• Sedangkan ideologi jahiliyah bersumber dari ungkapan, pernyataan, ketetapan, dan konsepsi orang-orang kafir (9:40, 74)
– Mereka bagaikan berada di samudra yang dalam, gelap, ombak bergulung-gulung, tidak bisa melihat apapun bahkan dirinya sendiri pun tidak (24:40)

Kalimat Allah itu Tinggi
• Kalimat Allah itulah yang tinggi, mulia (9:40)
– Karena semua kemuliaan memang hanya milik Allah (10:65)
• Sedangkan kalimat orang-orang kafir itu rendah, hina (9:40, 95:5 أَسْفَلَ سَافِلِينَ, 98:6 هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ)

Kalimat Tauhid vs Kalimat Syirik
• Kalimat Allah yang tinggi dan mulia itu adalah kalimat tauhid: لاإله إلا الله
• Sedangkan kalimat orang-orang kafir yang rendah itu adalah kalimat syirik
– Kemusyrikan bagaikan jatuh dari langit lalu dicerai-beraikan oleh burung akhirnya jatuh di tempat yang jauh (22:31)
– Kemusyrikan menyebabkan terpecahnya kepribadian, karena tidak fokus dalam pengabdian (39:29)

Kalimat Taqwa vs Kesombongan Jahiliyah
• Kalimat tauhid itu adalah kalimat taqwa, yang menghantarkan seseorang kepada ketaqwaan (48:26)
• Sedangkan kalimat syirik menghantarkan seseorang kepada kesombongan jahiliyah (48:26)
– Suhail bin Amru ketika masih kafir dalam Perjanjian Hudhaibiyah menolak kalimat basmalah dan rasulullah (setelah Islam ia sahabat yang gigih membela Islam terutama saat menghadapi orang-orang murtad)
– Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (الكِبْرُ بَطْرُ الحَقِّ وَ غَمْطُ النَّاسِ)

Kalimat Baik vs Kalimat Buruk
• Kalimat taqwa adalah kalimat yang baik (14:24)
• Sedangkan kesombongan jahiliyah adalah kalimat yang buruk (14:26)
– Tidak memberikan manfaat bagi manusia
– Didengar pun tidak enak

Kuat vs Lemah
• Jadi syahadatain itu kuat
– Pasti menang (58:21)
كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ
• Sedangkan ideologi jahiliyah itu lemah
– Pasti kalah dan hancur (17:81 زَهُوقًا)
مَرَاحِلُ التَّفَاعُلِ بِالشَّهَادَتَيْنِTahapan Berinteraksi Dengan Syahadatain

Syahadatain Menghasilkan Cinta
• Syahadatain yang diucapkan harus menghasilkan cinta. Kenapa?
• Karena “ilah” itu artinya yang dianut (panutan)
• Orang tidak akan manut/taat kalau tidak setia (loyal)
• Tidak akan setia kalau tidak cinta
• Jadi tuntutan syahadatain: adanya cinta
• Cinta seperti apa?

Mencintai Apa yang Dicintai Allah dan Rasulnya (مَحَبَّةُ مَا أَحَبَّهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
• Adanya penyesuaian dalam kecintaan
• Karena belum tentu yang kita cintai, pun dicintai Allah dan RasulNya, seperti perang (2:216)
• Ulama berkata:
مَحَبَّةُ مَحْبُوْبِ الْمَحْبُوْبِ مِنْ تَمَامِ مَحَبَّةِ الْمَحْبُوْبِ
• “Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda kesempurnaan cintainya kepada kekasih”

Membenci Apa Yang Dibenci Allah dan Rasulnya (بُغْضُ مَا أَبْغَضُهُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ)
• Allah dan RasulNya membenci perbuatan (الْفَحْشَاءِ), kemungkaran (الْمُنْكَرِ) dan permusuhan (الْبَغْيِ) 16:90 kita pun membencinya
• Sungguh akan membuatnya tersinggung apabila kekasih membenci sesuatu tapi kita malah menyukainya

Tanda-tanda Cinta (آيَاتُ المَحَبَّةِ)
• Mengikuti Rasul SAW (إِتِّبَاعُ الرَّسُوْلِ)
– 3:31 قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
• Berjihad di jalan Allah (الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)
– 49:15 bukti iman yang kokoh adalah jihad di jalan Allah
– Berani menanggung resiko

Kata Ulama:
مَحَبَّةُ الْمَحْبُوْبِ لاَ تُنَالُ إِلا بِاحْتَمَالِ الْمَكْرُوْهَةِ
– “Mencintai kekasih tidak akan tercapai kecauli dengan menanggung segala resiko”

Ridho (اَلرِّضَى)
• Kalau cintanya sangat tinggi, tentu dia akan RIDHO
• Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya
• Siapa yang harus kita ridhoi?
– Allah sebagai Robb kita
– Islam sebagai agama kita
– Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul kita

Pendalaman dan Perluasan Materi
• Masalah ridho akan diperdalam pada materi khusus tentang ridho (A08)
• Masalah ridho juga akan diperluas di materi
– Ma’rifatullah : ridho kepada Allah
– Ma’rifatul Islam : ridho kepada Islam

– Ma’rifaturrasul : ridho kepada Rasul SAW
BAB VI
SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN
(شُرُوْطُ قَبُوْلِ الشَّهَادَتَيْنِ)

A.    ILMU YANG MENIADAKAN KEBODOHAN
(اَلْعِلْمُ اَلْمُنَافِيْ لِلْجَهْلِ)

• Seseorang yang bersyahadat harus memiliki ilmu tentang syahadat yang diucapkannya
• Orang yang bersyahadat tanpa mengetahui makna/kandungan syahadat tidak diterima
• 3:18 bahwa yang diakui syahadat (persaksian)-nya hanya tiga pihak: Allah, malaikat, dan orang-orang yang berilmu

Mati dengan Ilmu لاإله إلا الله

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa mati sedangkan dia mengetahui (memiliki ilmu)
لاإله إلا الله masuk sorga (HR. Muslim)

Perbaharui Iman dengan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ
أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Perbaharuilah iman kalian.” Dikatakan, “Duhai Rasulullah, bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Bersabda Rasul SAW, “Perbanyaklah mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ” (HR Ahmad)

Banyak mengucapkan tanpa mengetahui maknanya, tidak akan dapat menghayatinya, sehingga tidak berpengaruh dalam memperbaharui iman

KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN

•         Orang yang bersyahadat harus menghasilkan keyakinan pada dirinya, tanpa keraguan sedikit pun, tentang keesaan Allah dan kerasulan Nabi SAW
•         49:15 yang disebut mu’min yang sempurna HANYALAH (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ) orang-orang yang
Beriman kepada Allah dan rasulNya
Kemudian mereka TIDAK RAGU-RAGU (ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا)
Masih Syirik, Tidak Diterima
•    Kalau masih ada syirik, maka syahadatnya tidak akan diterima
•    Karena kita tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan

 98:5 مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
 18:110 وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Rahmatan lil-’Alamin
•      Mu’min yang benar adalah mu’min yang produktivitasnya tinggi
•      Karena produktif, maka surplus
•      Karena surplus, maka bukan hanya orang Islam saja yang mendapatkan manfaat, tapi juga manusia lainnya, bahkan alam semesta
•      Mu’min seperti inilah yang dapat menjadi rahmat bagi semesta alam (21:108)
Kerelaan

RIDHO

Kalau cintanya sangat tinggi kepada Allah (2:165), tentu dia akan RIDHO kepada Allah. Apapun yang dikehendaki oleh yang dicintai tentu ia ridho menerimanya (76:30).

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ
Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah.
Tiada seorang pun yang mampu memberi hidayah kepada dirinya dan tiada pula mampu memasukkan iman kedalam hatinya serta tiada yang mampu mendatangkan manfaat bagi dirinya kecuali bila dikehendaki Allah à kita harus menyesuaikan dengan kehendak Allah dan
MENERIMAN APA YANG DIKEHENDAKI ALLAH = RIDHO

Yang Dikehendaki Allah ada empat macam;

Yang dikehendaki Allah TERHADAP DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)
Yang dikehendaki Allah TERHADAP ALAM SEMESTA (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِالْكَوْنِ)
Yang dikehendaki Allah DARI DIRI KITA (مَا أَرَادَهُ اللهُ مِنَّا)
Yang Dikehendaki Allah Terhadap Diri Kita (مَا أَرَادَهُ اللهُ بِنَا)

Misalnya Allah menghendaki diri kita besok mendapatkan ini dan itu à kita harus ridho menerimanya. Sesungguhnya, apa yang dikehendaki Allah terhadap diri kita sudah ditetapkan sejak umur kita 40 hari di dalam kandungan

ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ
Kemudian Allah mengutus malaikat, lalu meniupkan ruh dan ditetapkan empat ketetapan: rizkinya, ajalnya, amalnya, dan sengsera atau bahagia (HR. Ahmad).

Realisasi ketetapan tentu mudah bagi Allah.

Tidak Kita Ketahui (عَالَمُ الْغَيْبِ)

          Apa yang dikehendaki Allah terhadap diri kita, kita sendiri tidak tahu. Ini termasuk alam ghaib (عَالَمُالْغَيْبِ) besok kita kena musibah atau tidak, kita tidak tahu dan bahkan besok kita masih ada atau tidak, kita pun tidak tahu. Semuanya hanya Allah yang tahu. Pengetahuan Allah memang meliputi segala sesuatu (6:101). Seperti pada 31:34 ; Allah mengetahui apa yang ada dalam Rahim Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Qadha dan Takdir (اَلْقَضَاءُ وَالْقَدَرُ)
          Semua hal yang ghaib itu tertuang di dalam QADHA dan TAKDIR Allah SWT. Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan qadha dan takdir, ada yang bertukaran antara satu ulama dan ulama lainnya. QADHA: ketentuan Allah sejak zaman azali (alam belum ada) TAKDIR: realisasi dari qadha. Misalnya: menuruk qadha Allah besok kita mendapatkan rizki yang banyak; pas rizki itu datang à itulah takdir. Qadha dan takdir ada 2: baik (ni’mat) dan buruk (bencana) 21:35 à sebagai UJIAN.



Syukur dan Sabar
          Apapun takdir yang menimpa kita à harus ridho. Realisasi ridho menerima takdir yaitu, Takdir baik à syukur dan Takdir buruk à sabar. Keduanya adalah sifat mu’min yang mengagumkan;

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Menakjubkan perkara orang beriman sebab segala keadaannya baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian melainkan bagi seorang mu’min: apabila mendapatkan kemudahan bersyukur maka itu baik baginya, dan apabila ditimpa kesusahan bersabar maka itu baik baginya (HR. Muslim)

Realisasi Makna Syahadatain (1)
Syahadat yang kita ucapkan bukan sekedar pernyataan, tapi sekaligus sumpah dan janji kita kepada Allah SWT ada 3 macam ;
-          Syahadat adalah proklamasi keislaman kita
-          Syahadat adalah sumpah setia kita
-          Syahadat adalah janji setia kita

          Ia perlu realisasi sebagai konsekuensi dari proklamasi, sumpah dan janji tersebut. Sehingga ia bukan pernyataan kosong, sumpah palsu dan janji-janji belaka. Setelah seseorang bersyahadat maka hubungan dirinya dengan Allah SWT menjadi kuat.
Dirinya terikat dengan hubungan ini dengan ikatan yang sangat kuat yang tidak akan terputus (2:256):
فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا
maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus
Ada tiga hubungan yang harus dijaga:

Hubungan cinta
          Hubungan cinta kita dengan Allah setelah bersyahadat haruslah kuat à cinta yang sempurna (2:165). Realisasi cinta kita dengan Allah: Mengikuti Rasulullah (3:31), menata cinta kita terhadap selain Allah: mencintai orang dan apa saja yang dicintai Allah dan membenci orang dan apa saja yang dibenci Allah à lihat kembali materi “Mahabbatullah”, “Maratibul Hubb”, dan “Lawazimul Mahabbah”, dan berani menanggung resiko cinta: berjihad dan berkorban (49:15).
Cinta kita kepada Allah adalah cinta yang pasti berbalas (3:31).

Hubungan perniagaan      
          Hubungan yang kuat setelah bersyahadat adalah hubungan perniagaan (dagang) antara kita dan Allah. Perdagangan dengan Allah adalah perdagangan yang paling menguntungkan. Seperti pada (61:10) “Maukah Aku tunjukkan perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih?” Siapakah yang akan menjawab: MAU!? Orang yang menginginkan selamat di akhirat!. Dan pada (61:11) ada dua hal yang harus dilakukan: Iman kepada Allah dan Rasul-Nya dan Berjihad dengan harta dan jiwa.

Hubungan kerja
          Setelah bersyahadat maka kita terikat hubungan kerja dengan Allah. Syahadat adalah perjanjiang kontrak kerja kita dengan Allah yaitu; Kita adalah PEKERJA ALLAH (اَلْعَامِلُ) (39:39) dan Allah adalah MAJIKAN kita (9:105). Kita bekerja sesuai order (perintah dan larangan) Allah, bukan seenak kita sendiri à bisa ditolak hasil pekerjaan kita. Maka yang kita sodorkan haruslah amal terbaik (67:2, 3:92), bukan amal asal-asalan (3:188) atau ogah-ogahan (22:11). Jam kerja kita = umur kita. Upah kita = pahala dan sorga serta bonus melihat Allah (10:26).


تَحْقِيْقُ مَعْنَى الشَّهَادَتَيْنِ

Realisasi Makna Syahadatain (2)
          Pada materi sebelumnya disampaikan bahwa realisasi syahadatain adalah adanya hubungan yang kuat antara seorang mu’min dan Allah SWT. Hubungan itu meliputi: Hubungan cinta, Hubungan perniagaan, dan Hubungan kerja. Dalam materi ini akan dibahas realisasi syahadatain dari sisi pribadi yang mengikrarkan syahadat à kondisi pribadi yang dapat merealisasikan syahadatain.
Syahadat adalah Proklamasi (اَلإِقْرَارُ). Syahadat yang kita ucapkan adalah proklamasi akan jatidiri kita sebagai muslim dan mu’min. Proklamasi ini akan mudah disampaikan di tengah masyarakat yang menghormati aturan-aturan Islam. Tapi di tengah masyarakat yang jauh dari Islam menjadi lebih sulit, karena akan terasa aneh. Di tengah negara non-muslim akan lebih sulit lagi, karena bisa berakibat terbatasinya gerak langkah dalam kehidupannya. Pernyataan: اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَsaksikanlah bahwa sesungguhnya kami muslim! (3:64) menjadi tantangan berat bagi yang menyatakannya.
Proklamasi yang kita sampaikan adalah tentang keesaaan Allah (تَوْحِيْـدُ اللهِ), tidak ada sekutu bagi Allah. Tidak saling menuhankan sesama manusia dengan menghalalkan yang diharamkan Allah dan mengharamkan yang dihalalkan Allah (9:31). Tidak menuhankan hawa nafsunya (25:43, 45:23) sehingga menganggap suatu keharusan suatu tindakan ma’siyat. Lihatlah bagaimana para artis melakukan adegan-adegan yang dilarang syari’at dengan dalih tuntutan skenario àskenario sudah menjadi kitab suci para artis. Jika seorang mentauhidkan Allah, maka sudah seharusnya memenuhi tuntutannya
–     Sasaran hidupnya (قَصْدُ الْحَيَاةِ ) adalah Allah  6:162
–     Pedoman hidupnya (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ ) adalah Islam 6:153
–     Teladan hidupnya (اَلْقُدْوَةُ فِي الْحَيَاةِ) adalah Rasulullah SAW 33:21

          Apakah diri kita sudah memenuhi tuntutan ini? Perhatikanlah kisah Abud-Dahdah ketika turun surat Al-hadid ayat 11: “Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”.

          Hati yang bersih (sehat) adalah hati yang selalu mengharapkan rahmat Allah SWT (رَجَاءُ رَحْمَةِ اللهِ). Ia menyadari bahwa dirinya penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, sedangkan Allah memiliki segalanya dan rahmatNya sangat luas, maka ia selalu berharap agar mendapatkan rahmat Allah. Seperti pada (7:156) وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ  à ayat yang besar peliputan dan keumuman maknanya. Sama dengan doa malaikat penyangga ‘arsy (40:7): رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا
Keluasan rahmat Allah digambarkan bahwa 1% saja dari semua rahmatNya telah membuat semua makhluk saling mengasihi, hewan liar sayang kepada anak-anaknya, dan burung saling mengasihi. 99% rahmat Allah akan diberikan pada hari kiamat. 4:104 perbedaan mu’min dan kafir adalah bahwa mu’min mengharapkan rahmat Allah yang tidak diharapkan oleh orang kafir (وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَايَرْجُونَ). Sesungguhnya, semua manusia bisa masuk sorga pun karena rahmat Allah.


اَلصِّبْغَةُ وَالاِنْقِلاَبُ
Pencetakan dan Perubahan
Syahadatain
أشهد أن لاإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
•      أشهد = الشَّهَادَة mengandung 3 makna:
–     Pernyataan  (اَلْإِعْلاَنُ)
–     Sumpah (اَلْقَسَمُ)
–     Janji (اَلْعَهْدُ)

•      لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ à لاَ مَعْبُوْدَ إِلاَّ اللهُ (tidak ada yang disembah kecuali Allah) à hasil akhirnya adalah IKHLAS
•      مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ à لاَ رِسَالَةَ إِلاَّ مَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ (tidak ada risalah kecuali yang datang dari Muhammad SAW) à karena itu kita mesti ITTIBA’ (mengikuti) Rasulullah SAW

Cinta (اَلْمَحَبَّةُ)
          Syahadat adalah komitmen dalam hati untuk loyal (setia) kepada Allah dan Rasul-Nya. Kesetiaan itu tidak akan wujud kecuali dengan adanya CINTA. Semakin besar cintanya semakin kuat kesetiaannya. Allah SWT dan RasulNya pun menuntut orang yang beriman untuk mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya à lebih dari cintanya kepada. Bapak-bapaknya, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai (9:24). Diri sendiri: Umar berkata,وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي (demi Allah, engkau benar-benar lebih aku cintai daripada diriku, HR. Bukhari).

Ridho (اَلرِّضَى)
          Cinta menimbulkan kerelaan terhadap yang dicintai. Ia ridho kepada : Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul. Ridho kepada Allah berarti ridho terhadap apa yang dikehendaki Allah diantaranya terhadap diri kita (musibah): sabar dan syukur, terhadap alam semesta (sunnatullah) dan dari diri kita (melaksanakan syari’at).


Iman (اَلإِيْمَانُ)
          Kalau sudah ridho kepada Allah, Islam dan Rasul, maka berarti kita telah menjadi MU’MIN TULEN. Keadaannya bisa timbal-balik: mu’min sejati tentu akan ridho terhadap mereka semua. Iman yang disertai ridho inilah yang akan menghasilkan manisnya iman:

ذَاقَ طَعْمَ الإِيْمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً
“Telah merasakan lezatnya iman seseorang yang ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai dinnya dan Muhammad sebagai  Rasulnya.” (HR. Muslim)

Celupan (اَلصِّبْغَةُ)
          Keimanan yang kuat akan menjadikan seorang rela dicelup dengan celupan Allah (صِبْغَةُ اللهِ) (2:138). Dirinya, luar-dalam, dicelup dengan celupan Allah sehingga memiliki warna sesuai dengan warna yang dikehendaki Allah. Tentu ini berbeda sekali dengan orang yang dicelup dengan celupan lain: kapitalisme, sosialisme, yahudi, nasrani, hindu, budha, dll. Dan celupan Allah adalah sebaik-baik celupan à sebaik-baik warna yang dihasilkan: generasi yang unik, umat yang terbaik.

Perubahan (اَلاِنْقِلاَبُ)
          Setelah dicelup dengan celupan Allah, maka terjadilah perubahan warna pada diri mu’min. Begitulah yang terjadi pada para sahabat, ketika mereka masuk Islam, bersyahadat, maka terjadi perubahan yang mencolok pada diri mereka antara sebelum dan sesudah Islam. Para tukang sihir Raja Fir’aun pun berubah saat masuk Islam diantaranya tunduk kepada Nabi Musa AS (7:120), Iman kepada Allah (7:121) dan Kokoh ketika mendapatkan ancaman (7:123-126).



Pribadi Muslim (اَلشَّخْصِيَّةُ اَلاِسْلاَمِيَّةُ)
          Jika sudah terjadi perubahan pada keyakinannya menjadi keyakinan tauhid, pemikirannya, perasaannya dan perilakunya. Maka berarti telah terbentuk kepribadian Islam (اَلشَّخْصِيَّةُ اَلاِسْلاَمِيَّةُ). Jadi untuk membentuk pribadi Muslim harus dimulai dari syahadatain.

Nilai (اَلْقَيِّمَةُ)
          Pribadi Muslim inilah pribadi yang bernilai, bermutu di mata Allah dan RasulNya serta umat Islam semuanya. Pribadi yang berkualitas inilah yang akan membawa Islam pada kejayaannya (24:55) yaitu, Menjadi khalifah (penguasa) di muka bumi dengan membawa rahmat bagi semesta alam, Tamkin (kekokohan) dalam agama di atas agama-agama lainnya, Menghadirkan rasa aman sehingga perempuan bisa bepergian tanpa mahram tanpa ada gangguan apapun dan Semua manusia beribadah kepada Allah tanpa syirik. Kenyataannya, musuh-musuh Islam juga memiliki tentara-tentara yang berkualitas juga à kalau kita tidak berkualitas, kalah!












BAB VII
ILMU ALLAH
(عِلْمُ اللهِ)

          Ilmu Allah sangat luas dibanding ilmu makhluk-Nya. Manusia tidak sanggup untuk menuliskannya, meskipun dengan tinta dari 7 lautan dan pena dari semua pepohonan yang ada tak kan cukup (18:109, 31:27). Sedangkan ilmu makhlukNya sangat terbatas 2:32, 17:85. Oleh karena itu, Allah adalah sumber segala ilmu.

·         Allah Maha Pencipta (الْخَالِقُ )
Allah adalah Pencipta segala sesuatu (6:102)
خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
          Menciptakan yang Telah tiada, Sekarang ada dan Akan ada. Allah tidak pernah berhenti dalam mencipta à tertolaklah anggapan bahwa Allah menciptakan alam ini dalam 6 hari (Ahad – Jum’at) dan beristirahat pada hari Sabtu. Kalau berhenti mencipta, hancurlah alam semesta ini.

·         Pemberi Rizki (الْعَلِيْمُ  )

Karena Pencipta, maka Allah paling tahu segala sesuatu (2:29) :
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
          Allah Maha Mengetahui 59:22 yaitu, Yang abstrak (ghoib) dan Yang nyata (syahadah). Sedikit mendetailkan pengetahuan Allah yang ditulis di Lauh Mahfuzh 6:59 diantaranya apa yang di daratan dan di lautan, tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering


·         Khusus Jalur Ilmu (اَلْخَاصَّةُ )
          Berkat rahmatNya, Allah membagi sedikit ilmuNya kepada makhlukNya, termasuk manusia. Pemberian ilmu ini menggunakan dua jalur (jalan), diantaranya ;

1.      Jalur khusus ini disebut juga jalur resmi (اَلطَّرِيْقَةُ الرَّسْمِيَّةُ) à cepat
2.      Jalur umum disebut jalur tidak resmi (اَلطَّرِيْقَةُ غَيْرُالرَّسْمِيَّةُ) à lambat
          Karena ini jalur resmi, maka hanya orang-orang khusus yang menerimanya. Ilmu yang diberikan oleh Allah melalui jalur resmi berupa WAHYU (اَلْوَحْيُ). Wahyu sendiri secara bahasa berarti bisikan (وَسْوَسَةٌ) 6:112  يُوحِي= membisikkan, 6:121 لَيُوحُونَ = membisikkan. Ilham 16:68 أَوْحَى =الإِلْهَامُ وَالْهِدَايَةُ وَالإِرْشَادُ(ilham, petunjuk, dan bimbingan); 28:7 أَوْحَيْنَا = dan Kami ilhamkan (kepada ibunda Nabi Musa AS). Mengatur atau membentuk 41:12. Seperti perintah 99:5.
          Wahyu yang secara bahasa memiliki 4 arti itu, tidak membuat pihak-pihak yang mendapatkan wahyu ini lantas disebut Nabi atau Rasul. Kalau otomatis nabi berarti ada nabi dari setan, lebah, langit, bumi, wanita. Termasuk pemberitahuan akan karunia dan petunjuk yang Allah berikan kepada Maryam saat melahirkan melalui malaikat dalam bentuk seorang laki-laki (19:16-26) àbukan berarti Maryam itu Nabi. Atau dua malaikat yang datang kepada Nabi Ibrahim dan bercakap-cakap termasuk dengan Sarah, bukan berarti Sarah juga Nabi (11:69-74).
          Sedangkan WAHYU secara istilah, itulah yang diberikan kepada RASUL. Seperti pada 42:51 cara-cara wahyu turun diantaranya Allah berkata-kata langsung (khusus kepada Nabi Musa dan Nabi Muhammad ketika Mi’raj), Melalui tabir dan Melalui malaikat. Cara lainnya adalah melalui mimpi (37:102, 48:27) atau suara lonceng yang memekakkan telinga. Jadi sampainya kepada manusia melalui UTUSAN (اَلرَّسُوْلُ) yang ditunjuk oleh Allah SWT.

·         Umum Jalur Ilmu (اَلْعَامَّةُ)
          Ilmu Allah diberikan juga melalui jalur umum atau jalur tidak resmi, yakni berupa ilham. Ilmu ini tidak melalui perantara para Rasul Allah atau Nabi Allah, tetapi ditanamkan langsung oleh Allah. Tentu dibawa oleh malaikat Jibril kepada yang bersangkutan. Jadi sampainya ilmu kepada manusia secara umum itu bersifat LANGSUNG (مُبَاشَرَةٌ). Seperti pada 55:4 kecerdesan berpikir; mampu mengerti dengan terang dan sanggup pula memberikan pengertian kepada orang lain dengan terang pula.
          Perhatikanlah bagaimana kecerdasan manusia itu berbeda-beda, meskipun satu ibu-bapak. Siapa yang memberikan kecerdasan lebih pada orang tertentu dan kurang pada orang yang lainnya pada suatu bidang? Bukan karena orang tua atau guru atau sekolah. Tapi Allah yang memberikannya. Semua manusia pada hakikatnya cerdas, hanya saja berbeda-beda bidang kecerdasannya. Bahkan binatang pun diberikan kecerdasan: berang-berang yang mampu membuat bendungan yang manusia pun baru mampu membangunnya pada abad ke-20.

·         Ayat-ayat Qauliyah / WAHYU (اَلأيَةُ الْقَوْلِيَّةُ)
          Wahyu yang berikan kepada Rasul disebut pula AYAT-AYAT QAULIYAH (Firman Allah), AQ. Ayat-ayat qauliyah ini ada yang dalam bentuk lembaran-lembaran (shuhuf) dan ada pula yang berupa kitab. 87:18-19 surat al-A’la secara keseluruhan (ada juga yang mengatakan ayat 14-17 saja) terdapat dalam shuhuf Ibrahim dan Musa. Sedangkan yang berupa kitab: Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri selalu disebut dalam kitab-kitab sebelumnya (26:196).

·         Ayat-ayat Kauniyah / WAHYU (اَلأيَةُ الْكَوْنِيَّةُ )
          Sedangkan ilham yang diberikan kepada manusia berupa ayat-ayat kauniyah (AK), tentang fenomena alam atau sunnatullah di alam semesta 3:190-191, 41:53. Melalui tiga potensi yang telah diberikan oleh Allah kepada manusia (pendengaran, penglihatan dan hati), manusia mampu memahami apa yang terjadi di alam à merumuskannya dalam suatu ilmu pengetahuan àdiaplikasikan menjadi teknologi yang berguna. Allah terus memberikan ilham sehingga penemuan demi penemuan terus berlangsung. Alam terlalu luas untuk dikaji oleh manusia, sehingga kesempatan untuk menemukan hal-hal baru selalu terbuka lebar. Antara AQ dan AK memiliki hubungan yang sangat erat.

AQ memberikan ISYARAT (اَلإِشَارَةُ) tentang AK :
-  35:28 berbagai jenis barang tambang
-  57:25 besi yang berasal dari luar bumi yang sangat berguna bagi kehidupan
-   27:88 gunung-gunung yang berjalan seperti jalannya awan
-   39:6 ilmu embriologi (ada 3 tahapan perkembangan janin ظُلُمَاتٍ ثَلاثٍ )
-   86:11 adanya siklus terjadinya hujan, yang melalui tiga tahapan (30:48) dan hujannya pun  memiliki ukuran (43:11)

AK memberikan BUKTI (اَلْبُرْهَانُ) atau mengkonfirmasi kebenaran AQ
-  Berbagai penemuan ilmiah menjadi bukti kebenaran Al-Qur’an (41:53)

·         Kebenaran Mutlak / AQ (اَلْحَقِيْقَةُ الْمُطْلَقَةُ )
          Apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an memiliki tingkat kebenaran yang mutlak. 2:1 Al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya. 15:9 Allah menjamin akan keaslian Al-Qur’an sampai hari kiamat. Bukti kebenaran Al-Qur’an adalah tidak ada kontradiksi antara satu ayat dan ayat yang lain (4:82). Tidak ada yang mampu membuat yang serupa dengan al-Qur’an (17:88), atau serupa dengan 10 surat dalam al-Qur’an (11:13) atau salah satu suratnya saja (2:23)



·         Kebenaran Empiris / AK (اَلْحَقِيْقَةُ التَّجْرِبَةُ)
          Sedangkan kebenaran yang dicapai oleh penggalian melalui ayat-ayat kauniyah adalah kebenaran yang bersifat empiris, sesuai dengan pengalaman atau eksperimen. Rumusan teori atau penemuan selalu berkembang. Selalu saja ada sisi-sisi tertentu yang belum digali oleh manusia, sehingga memunculkan penemuan baru. Penemuan demi penemuan menyempurnakan teori yang ada atau membatalkannya. Contoh perkembangan teori atom ; John Dalton, J. J. Thompson, Rutherford, Bohr, dan Modern. Kalau terlihat ada pertentangan antara AQ dan AK? Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan rumusan yang sangat baik dalam masalah ini (Prinsip 19 dalam Risalah Ta’alim): “Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayah sendiri-sendiri yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna. Namun demikian, keduanya tidak akan pernah berbeda dalam hal-hal yang qoth’i (aksiomatik). Hakikat ilmiah yang benar tidak mungkin bertentangan dengan kaidah syariat yang shahih. Sesuatu yang masih bersifat zhanni (relatif) dari salah satunya, mesti ditafsiri sejalan dengan yang qoth’i. Bila kedua-duanya bersifat zhanni, maka pandangan syariat lebih utama untuk diikuti sampai logika mendapatkan legalitas kebenaran, atau gugur sama sekali.”

·         Pedoman Hidup / AQ (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ )
          Karena AQ kebenarannya bersifat mutlak, maka AQ yang berhak menjadi PEDOMAN HIDUP manusia.3:19 agama yang diridhoi oleh Allah adalah Islam. 3:85 siapa mencari agama selain Islam tidak akan diterima dan di akhirat akan merugi. Al-Qur’an bersama As-Sunnah telah merinci berbagai pedoman dalam berbagai sisi kehidupan manusia. Diantaranya Manusia dengan Allah, Manusia dengan sesamanya, Manusia dengan makhluk hidup lainnya dan Manusia dengan alam semesta.

·         Sarana Hidup / AK (وَسَائِلُ الْحَيَاةِ)
          Sedangkan berbagai ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan manusia dari ayat-ayat kauniyah, dijadikan sebagai sarana hidup manusia. Hidup manusia makin mudah dengan berbagai pengembangan ilmu pengetahuan karena berbagai sarana hidup ditemukan. Dunia ini makin seperti desa yang besar. Apa yang terjadi di belahan dunia lain, akan segera diketahui bahkan langsung diketahui oleh belahan lainnya. Kecepatan dalam transportasi antar kota, negara, bahkan benua. Jangan memposisikan keduanya secara terbalik: AQ menjadi sarana hidupnya dan AK menjadi pedoman hidupnya. AQ menjadi sarana hidupnya: menjual ayat dengan harga yang murah (2:41, 79, 174) à perilaku Yahudi. AK menjadi pedoman hidup: menuhankan materi. Kalau yang terjadi seperti ini, maka dunia akan rusak(30:41). Diantaranya Mempermainkan agama, Eksploitasi alam tanpa batas, dan Dekadensi moral. Kerusakan yang ditimbulkan sebenarnya lebih dahsyat (kehancuran total, tak bersisa), tapi Allah melepaskan sebagian kecil saja (35:45). Hanya dengan memposisikan secara benar antara AQ sebagai pedoman hidup dan AK sebagai sarana hidup manusia akan mencapai kesempurnaan. Saat memanfaatkan karunia Allah di alam semesta ini di samping sesuai dengan ilmu pengetahuan juga dilandasi moral Al-Qur’an. Hidup yang penuh berkah (7:96), hidup yang baik (16:97). Di dunia baik dan di akhirat pun baik serta selamat dari siksa api neraka (2:201).




BAB VIII
MA’RIFATURROSUL
(MENGENAL )

A.   Siapakah itu Rosul?
      Rasul adalah lelaki yang dipilih dan diutus Allah dengan risalah Islam kepada manusia. (Al-Kahfi:110, Al-An’am:9)
      Rasul adalah manusia pilihan yang kehidupannya semenjak kecil termasuk ibu bapaknya sudah dipersiapkan untuk menghasilkan ciri-ciri kerasulannya yang terpilih dan mulia. (Al-Ahzab:40)

Peran dan fungsi Rasul
•       Pembawa Risalah; membawa risalah Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an. (Al-Maidah:67, Al-Ahzab:39)
•       Sebagai model (teladan); menjadi uswah hasanah dalam berbagai kehidupannya, baik perkataan, perbuatan, sifat dan karakternya. (Al-Ahzab:21)

Alamatu Risalah (tanda-tanda kerasulan)
Sifatul Asasiyah.
Akhlaq mulia yang terdiri dari shiddiq, tabligh, amanah dan fathanah.
Mukjizat; sementara dan kekal (Al-Qur’an)
Berita Gembira; (As-Shaff:6)
An-Nubuwah (kenabian);
At-Tsamarat (Buah dari kenabian); (Al-Fath:29)

Kedudukan Rasulullah saw


Abdun min Ibadillah.
•  Seorang manusia biasa
•  Seorang yang memiliki keturunan
•  Seorang yang memiliki anggota tubuh
Pembawa risalah
Salah seorang utusan Allah
•  Menyampaikan risalah
•  Menunaikan amanah
•  Pemimpin umat

Pentingnya mengikuti Nabi saw
Mahabbatullah (cinta dari Allah),
Rahmatullah (kasih sayang-Nya),
Hidayatullah (petunjuk dari-Nya),
Mushahabatul akhyar fil jannah (bersama orang-orang pilihan di surga),
Asy-syafa’ah (mendapatkan syafaat dari Rasulullah saw),
Nadharatul wajhi (muka yang bersinar dan berseri di surga),
Mujawaratu ar-rasul (menjadi tetangga Rasulullah saw di surga),
Izzatun-nafsi (meperoleh kemuliaan jiwa di dunia dan akhirat),
Al-falah (kemenangan & keberuntungan).


BAB IX
SIFAT-SIFAT ROSUL

Karena Rasul adalah manusia istimewa yang dipilih oleh Allah sebagai utusanNya, maka tentu Rasul memiliki sifat-sifat yang unggul
•       Ini untuk mendukung keberhasilan penyampaian risalah, penunaian amanah, dan memimpin umat
•       Ini menjadi daya tarik bagi Rasul, sehingga manusia mau berhimpun di sekitarnya, bergerak bersamanya, dan dapat menggantikannya

SIFAT MANUSIAWI (اَلْبَشَرِيَّةُ)
•       Rasul yang diutus untuk manusia adalah manusia juga, bukan malaikat (18:110)
•       Oleh karena itu, Rasulullah SAW juga memperlakukan para sahabat secara manusiawi, bahkan  kepada binatang dan tumbuhan pun memperlakukannya dengan sangat baik

 Beberapa sisi manusiawinya Rasul:
–      Terhadap Sahabat-Sahabatnya
–      Terhadap Istri-istrinya
–      Terhadap Putra-putrinya
–      Terhadap Musuhnya
–      Terhadap hewan





Terhadap Sahabat-Sahabatnya:
•       Muhammad saw. sangat mencintai sahabat-sahabatnya, menunjukkan kasih sayang kepada mereka, memanggil mereka dengan panggilan yang sangat mereka sukai, sigap memberi pelayanan kepada mereka, bahkan berusaha menjadikan sahabatnya bisa rehat.
•       Diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, “Rasulullah saw. memberi minum kepada para sahabatnya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah saw. hendaknya Engkau meminum terlebih dahulu? Rasulullah saw. Menjawab: “Pemberi minum suatu kaum, ia paling akhir meminum.”
•       Suatu ketika ada seseorang masuk menemui Muhammad saw., tiba-tiba ia merasa merinding di hadapan keagungan Muhammad saw. Maka beliau berkata, “Tenangkan dirimu, saya bukanlah seperti raja. Saya adalah putra dari seorang perempuan Quraisy yang juga memakan Qadid.”

Terhadap Istri-istrinya:
•       Adalah Aisyah ketika minum air gelas, maka Muhammad saw. meminum gelas tadi persis di bagian yang sama Aisyah minum.
•       Beliau saw. memberlakukan mereka dengan perlakuan sisi manusiawinya, yang difitrahkan Allah, tidak memaksakan diri dan membuat-buat.
•       “Suatu kali Aisyah menang dalam lomba lari, lain kali Muhammad saw. mengalahkan Aisyah. Dan Muhammad saw. mengatakan: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.”

Terhadap Putra-putrinya:
•       Muhammad saw. suatu ketika telah shalat. Hasan bin Ali ra, masuk mendekatinya. Ketika beliau sujud, Hasan naik di pundak Rasulullah saw., maka Rasulullah saw. melamakan sujudnya, sehingga Hasan turun. Ketika Rasulullah saw. selesai shalat, sebagian sahabat bertanya kepadanya, “Apa yang menjadikan engkau lama dalam sujud? Beliau menjawab,“Sesungguhnya putraku telah naik di pundakku, maka aku tidak ingin mengusiknya dengan segera berdiri dari sujud.”
•       Orang Arab Badui mendatangi Muhammad saw. seraya berkomentar, “Kalian mencium anak-anak kalian? Sedangkan kami sama sekali tidak melakukan demikian!! Maka beliau saw. menjawab, “Atau apakah saya berkehendak bagimu agar Allah mencabut sikap kasih sayang dari hatimu?” Tentunya tidak!

Terhadap Musuhnya:
•       Hampir-hampir Muhammad saw. menyengsarakan dirinya karena banyak memikirkan mereka sepanjang waktu (18:6)
•       Diriwayatkan dari Aisyah ra, berkata: “Ketika Rasulullah saw didustakan oleh kaumnya, Jibril AS mendatanginya seraya berkata, “Sungguh, Allah swt mendengar ucapan kaummu tentang engkau, mereka menginginkan kecelakaan bagimu. Dan Malaikat Gunung telah diperintahkan kepadamu, agar engkau memerintahkan sesuka kehendakmu. Malaikat gunung menawarkan kepada beliau saw. “Perintahkan aku apa yang engkau mau, agar aku menimpakan dua gunung besar itu kepada mereka.” Maka beliau menjawab, “Bahkan saya berharap agar Allah swt melahirkan dari keturunan mereka, orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.”

Terhadap hewan
•       Diriwayatkan dari Sahal bin Al Handhalah ra. berkata, “Rasulullah saw. suatu hari melewati seekor onta yang menahan beban berat di punggungnya. Maka Rasulullah saw bersabda, “Takutlah kepada Allah, dalam memperlakukan hewan ternak. Naikilah dengan cara baik dan beri makanlah dengan cara yang baik pula.”

•       Perasaanmu pernah terusik gara-gara melihat anak burung yang diceraikan dari ibunya. Abdullah bin Umar meriwayatkan: “Suatu hari kami bersama dengan Nabi Muhammad saw. dalam safar. Beliau saw. memenuhi hajatnya. Ketika itu beliau melihat ada dua burung kecil yang diambil dari ibunya. Maka Nabi saw. mengatakan, “Siapa yang menjadikan anak burung ini ketakutan? Kembalikan anak burung ini kepada ibunya.”

TERPELIHARA DARI KESALAHAN (اَلْعِصْمَةُ)
•       Biasanya disebut dengan MA’SHUM
•       Bukan berarti tidak pernah salah, tetapi kalau salah langsung diluruskan (ditegur) oleh Allah SWT
•       5:67 وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ à turun setelah dua tahun di Madinah. Pada awal berada di Madinah teror          musyrikin Makkah memang dirasakan sekali oleh beliau, sehingga setiap malam ada yang                    menjaga beliau. Saat ayat ini turun, maka sahabat yang menjaga malam itu disuruh pulang                  karena sudah ada jaminan keselamatan dari Allah
•       80:1 teguran tentang “cara dakwah Rasul” yang lebih mementingkan ketokohan, bukan pada               orang yang siap meneriman perubahan (قَابِلُ التَّغْيِيْرِ)
•       66:1 à lihat catatan kaki Qur’an terjemah Depag RI

BENAR (اَلصِّدْقُ)
•       Apa yang disampaikan selalu benar, bukan dusta
•       Tak pernah sekalipun beliau berdusta, bahkan ketika bergurau
•       39:33
–      وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ à RASUL SAW
–      وَصَدَّقَ بِهِ à para sahabat

•       Ketika di bukit Shafa beliau bertanya, “Apa pendapat kalian jika kukabarkan bahwa di lembah ini ada pasukan kuda yang mengepung kalian, apakah kalian percaya kepadaku?”
•       “Benar,” jawab mereka, “kami tidak pernha mempunyai pengalaman bersama engkau kecuali kejujuran.”

Ash-Shiddiq
      Di antara sahabat yang paling cepat membenarkan beliau SAW adalah Abu Bakar, sehingga disebut dengan Ash-Shiddiq (yang selalu membenarkan)
      Gelar itu didapatkan ketika peristiwa Isra Mi’raj karena dia langsung membenarkan kejadian ini, selagi semua orang mendustakannya

CERDAS (اَلْفَطَانَةُ)
       Setiap Rasul mesti cerdas, karena tantangan kaum atau umatnya yang bermacam-macam
       2:258 Ibrahim AS mampu mematahkan argumentasi Namrud dengan telak sampai dia tak mampu berbicara sepatah kata pun
       Peristiwa peletakkan hajar aswad ketika beliau berumur 35 tahun menunjukkan kecerdasan beliau yang mampu menyatukan mereka
       Berdakwah di wilayah yang sangat menentangnya tentu mesti cerdas sehingga dakwah tetap berlangsung

AMANAH (اَلأَمَانَةُ)
•       Heraklius menanggapi jawaban Abu Sufyan ketika ditanya tentang apa yang diperintahkan  kepada mereka,maka jawabannya bahwa sesungguhnya dia memerintahkan kalian
–      Mendirikan shalat
–      Jujur
–      Memelihara diri (al-’afaf)
–      Memenuhi janji, dan
–      Menunaikan amanah




BAB X
TUGAS ROSUL

A.   Tugas Rasulullah SAW secara global ada dua, yaitu

1. Mengemban misi dakwah
2. Menegakkan agama Allah
          Kedua tugas itu beliau tunaikan dengan sebaik-baiknya, meskipun berbagai halangan dan rintangan selalu menghadangnya
Selama sekitar 23 tahun hidup beliau adalah hidup on-mission, bukan hidup santai

1. MENGEMBAN MISI DAKWAH (حَمْلُ رِسَالَةِ الدَّعْوَةِ)

Ini merupakan tugas umum beliau SAW sebagai Rasul
•  5:67 perintah untuk menyampaikan risalah
•  Allah SWT menjamin perlindungan saat mengemban misi ini
•  33:39 para rasul yang sebelumnya juga menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah

Ada 4 misi dakwah yang diemban oleh Rasul SAW
1.      Mengenalkan Pencipta
2.      Mengajarkan tatacara ibadah
3.      Menjelaskan pedoman hidup
4.      Mentarbiyah umat



Mengenalkan PENCIPTA (مَعْرِفَةُ الْخَالِقِ)
Ayat yang pertama kali turun (96:1) berisi tentang RABBMU YANG MENCIPTAKAN (رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ)
Ciptaan pertama yang dikenalkan adalah MANUSIA itu sendiri, yang Allah ciptakan dari segumpal darah (عَلَقٍ) atau ZIGOT
Berbagai fakta-fakta penciptaan dijelaskan oleh Rasulullah SAW untuk mengukuhkan keberadaan AL-KHALIQ, Allah SWT (6:102)

Tatacara Ibadah (كَيْفِيَّةُ الْعِبَادَةِ)
•  Karena manusia itu makhluk Allah, maka mesti beribadah kepadaNya dengan ibadah yang benar
•  Rasulullah SAW menuntun tatacara beribadah kepada Allah baik melalui lisan (sunnah qauliyah)        maupun perbuatan (sunnah fi’liyah)
•  Berbagai praktek ibadah yang salah dikoreksi oleh Rasulullah
   Thawaf jahiliyah dilakukan dengan telanjang dan disertai dengan tepuk tangan serta bersiul (8:35)
   Pulang haji masuk rumah melalui pintu belakang dianggap sebagai kebajikan (2:189)

Pedomana Hidup (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ)
•  Rasulullah SAW juga mengenalkan Islam sebagai pedoman hidup manusia (2:185)
•  Selama ini manusia pada zaman jahiliyah hidup dengan berpedoman tahayul dan khurafat
•  Contoh: bepergian berpedoman dengan thiyarah (merasa sial kalau burung terbang ke arah yang          tidak diinginkan)
•  Para dukun pada saat itu mendapat kehormatan yang tinggi, segala petuahnya menjadi pedoman

Tarbiyah (اَلتَّرْبِيَّةُ)
Misi Rasulullah SAW yang lainnya adalah mentarbiyah umat (62:2) misi yang didoakan oleh Ibrahim AS (2:129)

•Tarbiyah yang dilakukan Rasul SAW:
o Membacakan (tilawah) ayat-ayat Allah
o Membersihkan jiwa (tazkiyatun-nafs)
o Mengajarkan (ta’lim) Al-Qur’an dan Al-Hikmah
•  Kemudian dilanjutkan dengan MENGARAHKAN (تَوْجِيْهٌ) mereka menuju pribadi yang agung (rabbani 3:79) dan juga memberi nasihat (نَصِيْحَةٌ) kepada mereka (6:151-153)

2. MENEGAKKAN AGAMA ALLAH (إِقَامَةُ دِيْنِ اللهِ)
•  Tugas kedua Rasul SAW adalah menegakkan agama Allah SWT agar dimenangkan di atas agama-agama yang lain (9:33, 48:28, 61:9) dan agama itu hanya milik Allah semata (8:39)
•  42:13-15 أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَà فَلِذَلِكَ فَادْعُ

o Dakwah Rasul adalah untuk menegakkan agama ini
o Agama ini tidak akan tegak kecuali ada “penjaga”-nya, yakni NEGARA tidak akan ada kecuali adanya masyarakat Islami keluarga yang Islami pribadi yang Islami



BAB XI
HASIL MENGIKUTI ROSUL

          Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya telah ditegaskan bahwa beriman kepada para rasul – alihimus salam – adalah salah satu rukun iman dari rangkaian kesatuan 6 rukun iman. Mengingkari salah satu rukun iman berarti mengingkari semuanya, begitu pula dengan iman kepada rasul.

Ittiba’ adalah bukti keimanan

          Bukti keimanan kepada Rasulullah saw. yang paling utama adalah mengikuti beliau dalam segala sisi kehidupannya, selalu mentaati beliau dalam setiap perintah dan larangan yang beliau sampaikan. Sebab, mengikuti dan mentaati Rasulullah saw. adalah bukti ketaatan kita kepada Allah swt., dan mengikuti sunnah Rasulullah saw. adalah bukti kongkret mengikuti Al-Qur’an.
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa: 80)
Barangsiapa mengaku mentaati Allah swt. namun tidak mau ittiba’ Rasulullah saw., maka ketaatannya itu tidak sah menurut Al-Qur’an; dan Rasulullah saw. berlepas diri dari orang tersebut. Dan siapapun yang mengaku melaksanakan Al-Qur’an namun tidak ittiba’ dengan sunnah Rasulullah saw., maka pengakuannya hanyalah pengakuan palsu belaka.
          Sebagai contoh, untuk dapat melaksanakan shalat dengan sempurna kita memerlukan hadits Rasulullah saw. karena Al-Qur’an hanya memerintahkan kita mendirikan shalat tanpa menjelaskan rincian tata cara shalat. Bahwa shalat diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam merupakan penjelasan yang kita temukan dalam hadits Rasulullah saw., tidak dalam Al-Qur’an. Begitu pula dengan rincian pelaksanaan zakat, shaum (puasa), haji, dan ibadah-ibadah lain. Intinya, fungsi hadits Rasulullah saw. adalah menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an atau dengan bahasa lain kita tidak akan bisa mengamalkan Al-Qur’an tanpa mengikuti sunnah Rasulullah saw.
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

Salah seorang ulama besar, Fudhail bin ‘Iyadh, ketika menjelaskan makna “Ahsanu ‘amala” dalam surat Al-Mulk ayat 2 berkata,

أَحْسَنُ عَمَلاً : أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ. قَالَ: فَإِنَّ العَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصاً وَلَمْ يَكُنْ صَوَاباً لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَاباً وَلَمْ يَكُنْ خَالِصاً لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُوْنَخَالِصاً صَوَاباً، وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُوْنَ لِلهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُوْنَ عَلَى السُّنَّةِ.

“Yang dimaksud dengan ahsanu’ amala (amal yang terbaik) adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Karena sebuah amal jika dilakukan dengan ikhlas tapi tidak benar, maka amal itu tidak diterima oleh Allah. Begitu pula sebaliknya, jika amal itu benar tapi tidak ikhlas, juga ditolak oleh Allah swt. Baru diterima jika memenuhi kedua syarat tersebut (ikhlas dan benar). Yang dimaksud dengan ikhlas adalah semata karena Allah, sedangkan yang dimaksud dengan benar adalah mengikuti sunnah Rasulullah.” (Dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa vol 18/hlm 250).

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَثَلِي وَمَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَتَى قَوْمًا فَقَالَ رَأَيْتُ الْجَيْشَ بِعَيْنَيَّ وَإِنِّي أَنَاالنَّذِيرُ الْعُرْيَانُ فَالنَّجَا النَّجَاءَ فَأَطَاعَتْهُ طَائِفَةٌ فَأَدْلَجُوا عَلَى مَهَلِهِمْ فَنَجَوْا وَكَذَّبَتْهُ طَائِفَةٌ فَصَبَّحَهُمْ الْجَيْشُ فَاجْتَاحَهُمْ)). (رواه البخاري).

          Dari Abu Musa r.a. berkata, Rasulullah saw telah bersabda, “Perumpamaanku dan perumpamaan risalah yang diberikan Allah kepadaku seperti seorang laki-laki yang mendatangi suatu kaum lalu ia berkata, ‘Aku telah melihat pasukan tentara dengan kedua mataku, kuperingatkan kalian dengan sungguh-sungguh! Segeralah cari selamat (dari keganasan mereka)!’ Lalu sebagian mereka mentaatinya sehingga mereka segera menghindar dari pasukan kejam itu hingga selamat, sedangkan yang lain mendustakannya hingga pasukan itu menemui mereka dan meluluhlantakkan mereka.” (Bukhari
          Kita dapat merasakan dari hadits shahih di atas betapa Rasulullah saw. amat ingin menyelamatkan kita dari bencana dunia dan akhirat dengan syariat dan dakwah yang ia bawa, karena syariat Islam adalah penyelamat bagi kita dari kehinaan dunia dan penderitaan di akhirat.

Buah Ittiba’
Berikut ini adalah buah ittiba’ kepada Rasulullah saw.:

1. Mahabbatullah
Natijah (buah) dari ittiba’ kita kepada Rasulullah saw. jika kita lakukan dengan benar adalah mahabbatullah (cinta dari Allah swt) sekaligus maghfirah (ampunan)Nya.
Katakanlah (hai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali Imran: 31)
Cinta kepada Allah swt. yang dibuktikan dengan ittiba’ kepada Rasulullah saw. akan melahirkan buah manis berupa cinta Allah swt. Allah swt. memerintahkan kita mengikuti Rasulullah saw., dan setiap perintah Allah swt. apabila kita laksanakan dengan ikhlas dan benar pasti akan mendatangkan cinta dari-Nya. Ketika Allah telah mencintai hamba-Nya, maka segala kekurangan dan dosa yang terjadi akan mudah diampuni oleh Allah swt.

2. Rahmatullah
          Orang-orang yang mentaati Rasulullah saw. dengan mengikuti sunnah beliau akan memperolah rahmat dari Allah swt. Karena orang-orang yang mencontoh Rasulullah saw. pastilah orang-orang yang berbuat baik atau ihsan (ingat makna ahsanu ‘amala menurut Fudhail bin ‘Iyadh di atas), dan orang-orang yang berbuat ihsan amat dekat dengan rahmat Allah swt.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain, mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)
“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56).

3. Hidayatullah
«إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِيْ فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ» (رواه ابن خزيمة فيصحيحه وأحمد في مسنده والبيهقي في الشعب والطبراني وأبو نعيم).
          Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu mempunyai puncak semangat, dan setiap semangat memiliki titik jemu (lesu). Maka barangsiapa kelesuannya tetap dalam sunnahku berarti ia telah mendapat petunjuk (dari Allah), dan barangsiapa kelesuannya tidak dalam sunnahku berarti ia celaka. (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, Ahmad dalam Musnadnya, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, At-Thabarani dan Abu Nu’aim).
Hadits di atas menegaskan bahwa tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. dalam segala keadaan akan mendatangkan tambahan petunjuk dari Allah swt. Oleh karenanya, orang-orang yang beriman selalu berusaha mengikuti sunnah Rasulullah saw. ketika sedang bersemangat atau sedang lesu (kurang semangat). Ia tidak membiarkan dirinya hanyut dan terbawa bisikan setan sehingga membuatnya jauh dari hidayah Allah swt.

4. Mushahabatul Akhyar fil Jannah
          “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (An-Nisa: 69).
Orang yang ittiba’ kepada Rasulullah saw. akan dikumpulkan bersama orang-orang pilihan di surga nanti, yaitu para nabi, orang-orang yang shiddiq, syuhada, dan shalihin.
As-Syafaah

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: “اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَوَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ » (رواه البخاري).

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berdoa ketika mendengar panggilan adzan: ‘Ya Allah Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, bangkitkan dia dengan kedudukan mulia yang telah Engkau janjikan kepadanya’, maka akan mendapat syafaatku di hari kiamat.” (Bukhari).
          Hadits di atas menunjukkan keutamaan doa setelah adzan. Ia juga mengisyaratkan bahwa mengikuti perintah dan arahan Rasulullah saw. adalah sesuatu yang membuat kita berhak mendapatkan syafaat dari beliau. Logikanya, jika mentaati satu perintah Rasulullah saw. saja yakni membaca doa setelah adzan, akan membuat pembacanya berhak mendapatkan syafaat beliau, apalagi dengan mengikuti dan mentaati sunnah beliau secara keseluruhan, maka orang itu lebih berhak untuk mendapatkan syafaat beliau.

5. Nadharatul Wajhi
          Salah satu bentuk ittiba’ Rasulullah saw. adalah mendengarkan, mempelajari, menghafal, dan memahami hadits Rasulullah saw., kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Orang yang mempelajari hadits Rasulullah saw., menghafal kemudian menyampaikannya apa adanya tanpa menambah atau mengurangi, maka Allah akan membuat wajahnya berseri dan bersinar.

« نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ » (رواه الترمذي).

          Rasulullah saw. bersabda, “Semoga Allah menyinari (wajah) seseorang yang mendengar hadits dari kami, lalu ia hafal sehingga ia menyampaikannya kepada orang lain. Boleh jadi seorang pembawa fiqih menyampaikan (ilmunya) kepada orang yang lebih paham. Dan boleh jadi pembawa fiqih bukanlah seorang yang faqih.” (Tirmidzi).
          Hadits di atas mendorong kita untuk selalu bersemangat mempelajari, memahami, dan menghapal hadits Rasulullah saw, kemudian menyampaikan teks hadits itu apa adanya dengan penuh amanah tanpa menambah atau mengurangi sedikitpun. Jika kita itu kita lakukan kita berhak mendapatkan wajah yang bersinar di hari kiamat nanti. Hadits di atas juga menyatakan bahwa mungkin saja orang yang disampaikan kepadanya suatu ilmu kemudian ia lebih paham daripada yang menyampaikan. Atau bahkan bisa jadi yang menyampaikan sebuah riwayat tidak memahami riwayat tersebut, sedangkan yang disampaikan justru memahaminya dengan baik.

6. Mujawaratur Rasul
          Orang yang mencintai Rasulullah saw., maka ia akan berusaha sekuat tenaga untuk ittiba’ kepada Rasulullah saw. dengan mengikuti sunnah beliau. Maka orang ini akan bersama Rasulullah saw di surga, seperti sabda beliau:

((وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِى فَقَدْ أَحَبَّنِى وَمَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِى فِى الْجَنَّةِ)) (رواه الترمذي والطبراني في الأوسط)
“Barangsiapa menghidupkan sunnahku, berarti ia mencintaiku; dan barangsiapa mencintaiku, maka ia bersamaku di surga.” (Tirmidzi dan Thabarani di Al-Mu’jam Al-Awsath).

7. Izzatun Nafsi
          Orang yang mengikuti Rasulullah saw. dengan ikhlas semata-mata karena mencintai Allah dan Rasul-Nya, akan meraih kemuliaan dan kekuatan jiwa dihadapan Allah swt. Betapa tidak? Ia telah mendapatkan kecintaan, ampunan, rahmat, hidayah, dan berbagai anugrah lain dari Allah swt. Dengan itu semua terangkatlah dirinya menuju tempat yang tinggi dan mulia, ia tidak lagi peduli dengan kemuliaan di mata manusia selama ia mulia di sisi Allah.
Ingatlah, kemuliaan itu terletak pada mengikuti Allah Al-‘Aziz (yang memiliki Izzah atau keperkasaan) dan mengikuti Rasul-Nya. “Padahal ‘izzah itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” (Al-Munafiqun: 8).

8. Al-Falah
          “Maka orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw), memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 157). Keberuntungan pasti akan diperoleh oleh mereka yang selalu ittiba’ kepada Rasulullah saw. dengan beriman kepadanya, memuliakannya, menolong (ajaran)nya, dan selalu mengikuti cahaya Al-Qur’an.

9. Kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat
          Tak dapat diragukan lagi bahwa orang yang mendapatkan semua nataij dari mengikuti Rasulullah saw. di atas adalah orang-orang yang pasti berbahagia hidupnya dengan kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)



BAB XII
KEBUTUHAN MANUSIA TERHADAP ROSUL

A.   Manusia Pertama

•       Ketika Allah SWT menurunkan Adam AS beserta istrinya ke bumi, maka kemudian memiliki anak
•       Setiap kali mengandung, Hawa melahirkan satu pasang anak kembar: laki-laki dan perempuan
•       Syari’at yang diterapkan: perkawinan silang dan tidak boleh menikah dengan kembarannya

Perkembangan Manusia.
•       Manusia kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai tempat
•       Mereka bersuku-suku dan berkabilah-kabilah
•       Mereka hidup tanpa petunjuk, sehingga menyimpang dari kebenaran
•       Allah SWT mengutus RasulNya untuk mengembalikan mereka ke jalan kebenaran
•       Rasul yang diutus biasanya berasal dari kaum mereka sendiri

Mengakui Eksistensi Pencipta( وُجُوْدُ الْخَالِق)
Fitrah yang ditanam oleh Allah tidak akan pernah hilang, yang terjadi adalah tertutupi dengan kotoran-kotoran lain. Oleh karena itu, manusia pasti mengakui bahwa di balik alam semesta yang megah dan teratur ini, ada Penciptanya. Hanya saja, karena tidak ada PETUNJUK yang benar, manusia berbeda-beda (salah) dalam menyebut dan mensifatinya.

          Sang Pencipta. Keterbatasan akal manusia menyebabkan kesalahan dalam menggambarkan Sang Pencipta. Ada yang menganggap bahwa Pencipta itu terbatas pada satu kemampuan: langit sendiri penciptanya, laut, gunung, awan, dll ada pencipta dan pemeliharanya sendiri-sendiri
–      Brahma: dewa pencipta alam
–      Shiva: dewi perusak alam
Menyembah perusak lebih disukai dari pada pencipta, sehingga patung dewi Shiva yang lebih banyak disembah.

Bangsa Arab
•       Bangsa Arab berasal dari keturunan Ismail AS
•       Mereka pertama kali mendapat bimbingan dari Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS
•       Sepeninggal Ismail AS tidak ada lagi Rasul yang diutus kepadanya sehingga terjadi banyak
         penyimpangan
•       Mereka mengakui dengan pasti akan keberadaan Allah sebagai Pencipta dan Pengatur alam, tetapi mereka mensekutukannya dengan lainnya (29:61, 63)

Beribadah kepada Pencipta (عِبَادَةُ الْخَالِق)ِ
          Setelah mengenal Pencipta, maka mereka pun menyembahnya. Akan tetapi, terjadi berbagai macam cara penyembahan. Semuanya tidak lepas dari berbagai kemusyrikan yang menyertai penyembahan kepada Sang Pencipta.
–      Menyembah berbagai dewa-dewi, binatang, arwah, bintang, matahari, malaikat yang dianggap             anak perempuan Allah (kepercayaan kafir Quraisy), berhala-berhala (27:24, 39:2)
–      Mengadakan berbagai sesaji dan korban untuk “tuhan-tuhan” itu.

Ashabiyah (Fanatisme Bangsa).
•       Sejarah mencatat berbagai bentuk fanatisme suku atau bangsa
•       Banga Arya merasa dirinya bangsa suci, tinggi
•       Begitu pula bangsa Yahudi, bangsa kulit putih, bangsa Arab di masa sekarang
•       Paham nasionalisme yang semula baik, kemudian berkembang menjadi chauvinisme (nasionalisme sempit dan berlebihan)
•       Antar-suku Arab Quraisy sering terjadi perang karena masalah yang sepele
•       Arab Madinah dibantu oleh Yahudi terlibat Perang Bu’ats selama 40 tahun sebelum Islam masuk

Petunjuk Rasul (هِدَايَةُ الرَّسُوْلِ)
•       Untuk mengatasi dan menyelesaikan berbagai kekacauan itu, maka Allah mengirim para rasul   untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia
•   42:52-53 وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk   kepada jalan yang lurus)
•  Petunjuk itu berupa WAHYU yang Allah turunkan kepada para nabi dan rasul, di antaranya  berupa shuhuf (87:18-19) dan kitab-kitab (2:2)

Mengenal Pencipta (مَعْرِفَةُ الْخَالِقِ)
•  Dengan petunjuk itulah manusia dikenal oleh para rasul tentang Pencipta satu-satunya alam semesta ini, yaitu ALLAH SWT   6:102
–      Rabb kalian adalah ALLAH (ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ)
–      Tidak ada ilah kecuali Dia (لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ)
–      Pencipta segala sesuatu (خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ)
–      Sembahlah Dia (فَاعْبُدُوهُ)
–      Dia adalah Pemelihara segala sesuatu (وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ)

Pedoman Hidup (مِنْهَاجُ الْحَيَاةِ)
• Para rasul juga memberi petunjuk tentang aturan-aturan yang seharusnya menjadi pedoman hidup mereka, bukan aturan-aturan yang dibuat mereka
• Pedomana hidup itu seharusnya mampu mengarahkan manusia pada jalan yang lurus (shiratul mustaqim) bukan jalan yang menyimpang dan sesat
• Pedoman hidup itu adalah ISLAM (6:153) inilah yang mesti diikuti dan jangan mengikuti  pedoman yang lain karena akan menyimpangkan dari jalur yang benar
• Beribadah dengan Benar ( اَلْعِبَادَةُ اَلصَّحِيْحَةُ)
Berkat petunjuk Rasul, manusia mengenal Allah SWT dengan benar dan mengikuti pedoman hidup yang sejati
• Dengan begitu, manusia akhirnya dapat beribadah kepada Allah SWT dengan ibadah yang benar
•  21:25 à sembahlah AKU saja
•  98:5 beribadah dengan memurnikan ketaatan




BAB XIII
TAWAZUN

A.   Sikap terhadap Dua Hal

          Tawazun (keseimbangan) sangat penting dalam kehidupan à tidak tawazun akan fatal akibatnya. Biasanya tawazun berkaitan dengan mensikapi dua atau beberapa amal yang mesti dilakukan agar sikapnya tepat (adil): memberikan hak kepada yang berhak

Tawazun di Alam Semesta
•       Allah SWT menciptakan langit dan semua isinya dengan tawazun
•       55:7-9 ada 3 sikap:
–      Tawazun: وَوَضَعَ الْمِيزَانَ à وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ
–      Jangan berlebihan: أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
–      Jangan mengurangi: وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ
•       Ada perintah dan larangan agar tetap menjaga keseimbangan (tawazun)

HANIF
• Adanya fitrah inilah yang membuat manusia memiliki kecenderungan kepada kebaikan atau yang disebut HANIF
• Maka kecenderungan baik (hanif) mesti dipertahankan à 30:30 perintah untuk perhatian terhadap DIEN YANG LURUS, yang akan membawa fitrah tetap pada jalan yang lurus
• Ingat! Bahan baku yang telah diberikan Allah itu baik, tapi jika tidak dipelihara akan rusak

          Memelihara Fitrah. Agar fitrah yang hanif ini terpelihara dengan baik, perlu bersikap TAWAZUN terhadap 3 potensi manusia: jasad, akal, dan ruh. Manusia menurut Islam terdiri dari 3 unsur:
1. JASAD (physical being)
2. AKAL (intellectual being)
3. RUH (spiritual being) à Barat sering melupakan yang ini

اَلْغِذَاءُ اَلْجَسَدِيُّ (Makanan Jasad)
• Makanan jasad, ya makanan yang biasa kita makan: nasi, tahu, tempe, daging, sayur, susu,  madu, air, dll
• Kurang makanan à lemah, sakit, bahkan bisa mati (kelaparan)
• Allah SWT telah menyediakan makanan untuk manusia dengan dua patokan:
1. Halal dan baik 2:168, 5:88, 8:69, 16:114
2. Tidak berlebihan 6:141, 7:31
          Cenderung Berlebihan. Allah SWT hanya melarang untuk tidak berlebihan, tapi tidak ada larangan jangan kekurangan. Karena kecenderungan manusia dalam masalah ini adalah berlebihan, tidak ada yang mau kekurangan. Bahkan tubuh manusia ternyata didisain oleh Allah, mampu menampung lemak hampir tanpa batas à ada manusia yang berbobot 600 kg. Berlebihan di sini juga berarti memakan makanan yang haram atau tidak membayar zakatnya (68:17-33) atau mengharamkan makanan yang halal (66:1).
          Agar mendapatkan makanan à mesti bekerja: pekerjaan yang baik, bukan mencuri, menipu, dll . Makanan halal tapi didapat dengan uang yang haram akan masuk ke dalam tubuh sehingga tubuh ada unsur haramnya.

اَلْغِذَاءُ اَلْعَقْلِيُّ (Makanan Akal)
•       Makanan akal adalah ILMU
•       Kurang ilmu à akalnya lemah, “kurus” (bodoh)
•  Seperti makanan jasad, ilmu pun mesti yang baik sehingga bermanfaat
•  Ilmu yang buruk: ilmu sihir, ilmu mencuri, dll

Ayat-ayat yang Pertama Turun: ILMU
Ada tiga surat yang pertama turun
1.  Al-’Alaq: 1-5 à perintah membaca (iqra’)
2.  Al-Qalam à ayat 1 Demi PENA dan apa yang DITULIS
3.   Al-Muzammil:1-19 à perintah membaca al-Qur’an dengan perlahan (tartil)

•Pada masa kejayaan Islam, ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat
HIKMAH. Jika ilmu itu berkembang dengan baik, maka akan muncul hikmah (sikap bijak). 2:269 hikmah = kebaikan yang banyak
–  Hikmah adalah memahami al-Qur’an
–  Hikmah adalah kesesuaian ucapan dan perbuatan (الإصابة في القول والفعل)
– Hikmah adalah mengenal agama, memahaminya, dan mengikutinya
–  Hikmah adalah pemahaman
–  Hikmah adalah rasa takut (al-khasyyah) kepada Allah, karena pangkal segala sesuatu adalah  takut kepada Allah

اَلْغِذَاءُ اَلرُّوْحِيُّ (Makanan Ruh)
• Makanan ruh adalah dzikrullah (ingat kepada Allah)
• Inilah makanan yang kurang mendapatkan perhatian manusia pada umumnya
•  “Lapar”-nya tidak terasa, padahal fenomenanya sudah muncul: gelisah, tidak dapat tidur
• Padahal ruh itu PENGENDALI diri kita



Tidak Terkontrol
•  Akibat kelemahan ruh, maka kehidupan seseorang tidak akan terkontrol
–      Halal dan haram tidak dipedulikan
–      Orang lain susah pun tidak dipedulikan
–      Masyarakat hancur, negara hancur, bahkan dunia hancur pun tidak peduli
–      Ia akan mementingkan dirinya sendiri

Dzikrullah
•       33:41 dzikir yang banyak (ciri mu’min)
•       4:142 dzikir yang sangat sedikit (ciri munafik)
“Aku terserah kepada persangkaan hamba-Ku terhadap Ku, jika ia menginat-Ku (baca: berdzikir) dalam diri-Nya, aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku didalam sebuah jamaah, aku akan menyebutnya di dalam jamaah yang lebih baik dari mereka.” (Hadits Qudsi, Muttafaqun ‘Alaihi dari hadits Abu Hurairah)
•       Dzikir di sini bukanlah sebatas dzikir ucapan, tetapi
•       taubat itu merupakan dzikir
•       tafakkur itu dzikir
•       menuntut ilmu itu dzikir
•       mencari rezeki-jika niatnya baik-jiga termasuk dzikir
•       dan segala sesuatu yang di sana ada upaya taqarrub kepada Allah dan anda selalu waspada akan pengawasan-Nya kepada anda, maka itu adalah dzikir.
•       Oleh karena itu orang yang arif adalah orang yang bisa berdikir di setiap waktu dan kesempatan




Adab Berdzikir :

1.  Khusyu’, menghadirkan hati dan pikiran akan makna-makna lafal yang terucap, berusaha terwarnai olehnya, serta berusaha menetapi maksud dan tujuannya.
2.  Merendahkan suara sebisa mungkin, dengan konsentrasi yang penuh dan iradah yang sempurna, sehingga tidak mengganggu yang lain (Al-A’raf: 205)
3.  Sesuai dengan jamaah (irama dan suaranya), jika kebetulan dzikirnya itu bersama jamaah. Usahakan agar tidak mendahului, terlambat, atau mengungguli bacaan mereka
4.  Bersih pakaian dan tempat, memperhatikan tepat-tempat yang terhormat dan waktu-waktu yang sesuai
5.  Mengakhiri dengan penuh khusu’ dan adab, menjauhi kesalahan dan main-main, yang hal itu bisa menghilangkan faedah dan pengaruh dzikir.

Macam-macam Dzikir :
1.   Al-Wazhifah
2.   Wirid Qur’an
3.   Doa-doa siang dan malam
4.   Doa-doa yang ma’tsur dalam berbagai kesempatan
5.   Wirid Ikhwan: wirid doa dan wirid rabithah

Efek Kekurangan Makanan. Terhadap jasad: lapar atau mati à efek pribadi
•       Terhadap akal: bodoh
•       Terhadap ruh: mati hati
 Secara rinci sudah diuraikan dalam madah “NAFSUL INSAN”



Ni’mat Lahir dan Batin
• Jika jasad, akal, dan ruh terpenuhi keperluannya dengan tawazun, maka itulah ni’mat yang sejati: lahir dan batin (31:20)
• Kehidupannya akan stabil, tidak mudah tergoncang





BAB XIV
MANAJEMEN WAKTU

A.   ARTI WAKTU

• Untuk mengetahui arti satu tahun, tanya pada seorang siswa yang gagal SPMB
•Untuk mengetahui arti satu bulan, tanya pada ibu yang melahirkan bayi prematur
•Untuk mengetahui arti satu minggu, tanya pada editor majalah mingguan
•Untuk mengetahui arti satu hari, tanya pada buruh harian yang punya enam orang anak
•Untuk mengetahui arti satu jam, tanya pada orang yang sedang mengerjakan ujian
• Untuk mengerti arti satu menit, tanya pada orang yang ketinggalan kereta
• Untuk mengetahui arti satu detik, tanya pada seseorang yang selamat dari kecelakaan
•Untuk mengetahui arti satu milidetik, tanya seseorang yang memenangkan medali di Olimpiade.

MANAJEMEN WAKTU
          Manajemen waktu adalah perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, dan evaluasi penggunaan waktu.

STRATEGI PENJADWALAN
•       Buat daftar kegiatan yang akan dikerjakan
•       Buat skala prioritas dari tiap kegiatan
•       Perkirakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tiap kegiatan
•       Alokasikan waktu untuk tiap kegiatan
•       Kendalikan penggunaan waktu agar tercapai efisiensi
•       Evaluasi penetapan jadwal

PENYEBAB PENUNDAAN
•       Menghindari hal yang dianggap tidak menarik, tidak menyenangkan, atau tidak penting.
•       Tugas sangat kompleks sehingga mengurangi motivasi
•       Merasa masih memiliki banyak waktu
•       Malas

MENGHILANGKAN KEBIASAAN MENUNDA        
•       Amati kelakuan menunda
•       Temukan alasan penundaan
•       Singkirkan pikiran negatif
•       Jangan terus bekerja dalam tekanan
•       Jangan terbawa perasaan
•       Percaya diri untuk memulai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar